Empat Lukisan

July 11th, 2010

Lukisan ini dituang di atas kertas putih. Ada 4 lembar. Semuanya dikirimkan melalui pos. Ketika kubuka satu per satu lukisan ini, tidak terasa air mataku menetes. Anakku sendiri yang berumur 6 tahun waktu itu mengirimkan hasil karya lukisnya sendiri kepadaku. Dan ketika kutanyakan satu persatu arti lukisan itu, dia menjelaskan dengan sangat terang. Membuat hati ini menjadi sangat tersentuh.

Inilah Empat Lukisan itu :

lukisan-abyan-011lukisan-abyan-02lukisan-abyan-03lukisan-abyan-04

Distribusi Obat di Daerah Terpencil

May 11th, 2010

dsc0003801 Pelayanan kesehatan masyarakat di suatu daerah sangat tergantung pada ketersediaan obat-obat yang ada didaerah itu. Bagi Pemerintah Daerah, Gudang Farmasi Kabupaten merupakan ujung tombak terdepan keberhasilan dan kelancaran distribusi obat-obat ke seluruh puskesmas yang ada di daerahnya.

Namun, barangkali anda yang berada di Ibukota Jakarta maupun di kota-kota besar tidak akan menyangka bahwasanya distribusi obat-obatan ke puskesmas di daerah terpencil seperti di wilayah Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan, tidak semudah yang dibayangkan.

Kepala Gudang Farmasi Kabupaten Barito Kuala, Salwati, S.Si., Apt mengatakan bahwa dia bersama jajarannya harus melalui perjalanan sungai dengan perahu bermesin selama hampir 1 jam perjalanan kemudian dilanjutkan perjalanan darat untuk satu tempat tujuan. Terkadang harus melewati gelombang air yang tinggi, sehingga dia sudah selalu siap dengan pelampung di badannya.
dsc00038Sebagai seorang wanita yang menangani area dengan kesulitan yang tinggi, Salwati tidak pernah menyerah. Karena baginya, ini adalah amanah yang harus dikerjakan agar pelayanan kesehatan di daerahnya lancar dan rakyat menjadi sehat.

Barangkali ibu Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu, menjadi terbuka akan hal ini. Paling tidak agar mereka para pengabdi negara yang benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya terus bersemangat dan tidak kurang sesuatu apapun.

Bravo ! Selamat berjuang!

Fitriyan Dwi Rahayu, Nilai UN Tertinggi dari Kebumen

May 10th, 2010

arbi1dlmKebumen - Fitriyan Dwi Rahayu adalah salah satu dari 5 siswa SMP yang meraih nilai UN tertinggi di Indonesia. Presiden SBY pun menelepon siswi SMPN 1 Karanganyar, Kebumen ini.

Melalui telewicara, Presiden SBY di Cikeas, Bogor, berdialog dengan Fitriyan yang berada di SMPN 1 Karanganyar bersama orang tua dan guru.

“Saya bangga atas prestasi sekolah ini dan kepada ananda Riyan (Fitriyan) karena mendapat medali emas,” kata SBY, Sabtu (8/5/2010).

Fitriyan mendapat nilai sempurna 10 untuk Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA. Untuk pelajaran Bahasa Inggris, Fitriyan mendapat nilai 9,8.

“Wah! Itu mengalahkan Bahasa Inggris Pak SBY!” kata Presiden disambut tepuk tangan hadirin di SMPN 1 Karanganyar, termasuk Bupati Kebumen Nashiruddin.

Usai berbincang dengan Presiden SBY, Fitriyan mengaku senang dengan apa yang telah diperolehnya saat ini. “Saya tidak pernah menyangka akan dapat berbincang langsung dengan Bapak Presiden,” jelasnya.

Fitriyan, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara keluarga sederhana pasangan Cipto Raharjo (51) dan Sukarni Mugi Rahayu (43) warga Desa Jatiluhur, Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Orang tuanya adalah pengurus perpustakaan Desa Kebumen. Nah, sambil membantu orang tua, Fitriyan ikut membaca buku perpustakaan yang membantunya dalam belajar dan mengerjakan soal UN. (sumber : http://www.detiknews.com/read/2010/05/08/155706/1353570/10/nilai-un-tertinggi-fitriyan-ditelepon-sby)

Foto Lain :

aa1

SANGAT MEMBANGGAKAN!!! Itulah komentar saya pertama kali mendapati berita ini. Apalagi sebagai seorang warga asal Kebumen, ada rasa haru dan sangat bangga yang bercampur menjadi satu, karena satu hari sebelumnya Kompas Cetak memberitakan bahwa,”Pada tahun ini, tercatat 561 sekolah yang memiliki tingkat kelulusan 0 persen dengan jumlah 9.283 siswa (Kompas, 7 Mei 2010)”.

Fitrian membuktikan bahwa dengan fasilitas pendidikan yang minimalis dan jauh dari keramaian, bisa menjadi yang terbaik. Kuncinya hanya dengan belajar sungguh-sungguh.

Banyak orang menyalahkan sistem pendidikan kita, yang mulai bisnis oriented. Tapi memang tidak semua. Sistem sebagus apapun, jika siswa tidak mempunyai inner motivation yang tinggi maka yang terjadi hanya main-main semata. Begitu pula dengan bakat siswa, bila tidak didukung oleh sistem yang baik dan benar, maka bisa berakibat fatal.

Fitrian adalah contoh yang baik. Selamat buat Fitrian. Terus belajar dan jangan pernah menyerah.

Bravo Anak Kebumen!!!

Serat Jayabaya

May 6th, 2010

Isi Ramalan

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa.
Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.
Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.
Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
Nantang bapa— Menantang ayah.
Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil
Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil
Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.
Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.
Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.
Wong apik ditampik-tampik— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.
Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan
Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.
Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan
Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.
Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.
Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.
Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.
Akeh laknat— Banyak kutukan
Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
Guru disatru—Guru dimusuhi.
Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
Akeh barang haram—Banyak barang haram.
Akeh anak haram—Banyak anak haram.
Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.
Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.
Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.
Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.
Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.
Sing wedi mati—Yang takut mati.
Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.
Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih
Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.
Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.
Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.
Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit
Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang
Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.
Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi.
Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.
Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh
Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.
Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
Agama ditantang—Agama ditantang.
Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.
Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga
Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
Buruh mangluh—Buruh menangis.
Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.
Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.
Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

Sejarah Viagra

April 27th, 2010

posisi2Pada masa awalnya viagra bukanlah digunakan sebagai obat kuat pria. Kemunculan Viagra memiliki sejarah unik. Semula oleh bagian riset Pfizer pil ini dirancang untuk mengobati gangguan tekanan darah tinggi dan angina. Dalam percobaannya atas sejumlah orang, pil ini menghasilkan efek yang luar biasa. Anehnya, mereka yang dipilih untuk menjalani percobaan, kebanyakan tidak mengembalikan pil sisa sampel. Para ahli riset Pfizer menduga pasti ada apa-apanya. Benarlah, rupanya pil ini punya fungsi lain yang lebih menarik yaitu sebagai obat kuat pria.

Bagaimana pil ini bekerja? Secara alamiah, ketika terjadi ejakulasi, tubuh pria akan mengeluarkan enzim yang bertugas menghambat guanosine monophosphate (GMP). Fungsi GMP ini adalah untuk mengendurkan otot penis seperti sedia kala. Viagra atau obat kuat pria yang mengandung bahan aktif sildenafil berfungsi untuk mempertahankan GMP agar tidak dihambat oleh enzim tadi.

Nah, bahan aktif sildenafil tadi akan mengambil alih fungsi enzim yaitu agar otot di jaringan penis mengalami relaksasi yang memungkinkan darah tetap mengalir lancar ke corpus cavernosum sehingga penis pun akan cukup lama berada dalam kondisi tegang selama berlangsungnya coitus.

Dalam percobaannya atas 3.700 orang (550 di antaranya diujicoba lebih dari setahun) usia 19 -87 tahun dengan tingkat impotensi beragam, keberhasilan manfaatnya cukup signifikan, sekitar 60% - 80%.

Menurut aturan pakai, Viagra atau obat kuat pria sebaiknya diminum sejam sebelum berhubungan intim. Akan bekerja secara efektif selama paling lama 4 jam. Meski demikian si pemakai tetap harus memperoleh rangsangan seksual untuk menimbulkan ereksi sebelum obat tersebut bereaksi. Jangan berpikiran bahwa setelah minum pil ini keperkasaan Anda langsung bangkit. Sebenarnya, Viagra atau obat kuat pria ini adalah semacam erection-enchancer.

“Ia akan membantu agar tercapai ereksi normal, meski tidak menyamai pria yang sehat secara seksual. Viagra atau obat kuat pria tak akan mengubah atau meningkatkan libido dan nafsu seksual pria normal. Dengan kata lain ini bukan obat kuat atau aprodisiak bagi pria normal,” ujar Dr. Harin Padma-Nathan, direktur Male Clinic di Santa Monika salah seorang peneliti Viagra.

Pzifer sendiripun mengakui, Viagra atau obat kuat pria akan menimbulkan akibat samping berupa kepala pusing, penglihatan kabur, dan sakit perut. Pemakaian dosis banyak akan mengakibatkan si pemakai tak mampu membedakan warna hijau dengan biru. Karena Viagra tidak membuat orang menjadi ereksi melainkan hanya untuk mempermudah ereksi, maka jangan sekali-kali menyuntikkan pil ini. Akibatnya sangat berbahaya. Bisa membuat pemakai mengalami priapism, dimana pria tersebut justru tak mampu menghentikan ereksinya.

“Seperti diketahui, proses ereksi terjadi karena adanya pelebaran pembuluh darah di penis. Nah, Viagra bekerja melebarkan pembuluh darah di penis tersebut. Namun barangkali, terjadi pula pelebaran pembuluh darah di bagian tubuh yang lain. Itulah yang menimbulkan efek samping,” jelas Dr. Akmal Taher.

“Kalau dikonsumsi bersama obat yang mengandung nitrat, seperti obat penyakit jantung, bisa berisiko kematian karena obat itu memberi efek potensiasi, saling menguatkan. Jadi pelebaran pembuluh darahnya justru akan sedemikian hebat,” tambah Taher.

Salah satu dari sekian dampak yang diakibatkan oleh kemunculan pil baru warna biru bernama Viagra, adalah kematian bagi para penderita jantung dan diabetes.

Gangguan jantung dan diabetes

Selasa 9 Juni 1998, Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) AS melaporkan, 16 orang meninggal setelah mengkonsumsi pil Viagra. Bahkan menurut laporan Wall Street Journal Senin 29 Juni 1998, jumlah itu bertambah menjadi 30 orang. Korban tertua berumur 80 tahun sedangkan yang paling muda umur 48 tahun.

Tak semua bisa diidentifikasi penyebab kematiannya. Dari hasil pemeriksaan, diketahui sebagian besar korban sedang menjalani pengobatan penyakit jantung, diabetes, dan komplikasi beberapa penyakit lain. Sisanya tak diketahui sejarah penyakit dan pengobatan yang dijalani sebelumnya.

Korban yang menderita gangguan jantung ada 6 orang. Dua di antaranya sedang menjalani terapi dengan hytrin. Yang satu mengidap tekanan darah tinggi dan stroke pada bagian yang menghubungkan otak depan dengan tengah. Sementara yang lain menderita gangguan denyut jantung tak teratur yang kronis serta pembesaran prostat. Sebelum meninggal, kedua kakek ini sempat pingsan di tengah aktivitas seksualnya.

Dua lainnya terserang nyeri dada namun tak bisa diselamatkan menyusul gagalnya terapi resusitasi, serta pemberian obat nitroglyserin. Dua korban lain sebelumnya minum obat penurun tekanan darah dan aspirin. Satu setengah jam setelah minum Viagra, mendadak sesak nafas, wajah mereka pucat, dan akhirnya meninggal.

Enam korban diketahui mengidap penyakit diabetes. Salah satunya yang juga memiliki kelainan paru-paru, meninggal setengah sampai satu jam setelah menegak Viagra. Padahal ia belum melakukan hubungan seksual.

Penyebab kematian salah seorang di antaranya adalah detak jantung tak teratur dan aliran darah dari jantungnya tersumbat. Ia meninggal setelah melakukan hubungan seksual. Korban yang lain meninggal di pagi hari setelah malam sebelumnya menegak Viagara. Tak dilaporkan apakah ia sudah berhubungan seks atau belum. Yang jelas kematiannya disebabkan karena cardiopulmonary arrest.

Sementara itu ada korban yang setelah minum Viagra lalu terserang nyeri dada selagi berhubungan seks. Ia lalu diberi obat nitrogliserin dalam ambulan ke rumah sakit. Nyawanya tak tertolong. Korban selanjutnya, sedang dalam tetapi insulin, tewas tak lama setelah minum Viagra. Empat korban lainnya yang meninggal tidak diketahui pasti riwayat penyakit yang diderita sebelum minum Viagra, serta jenis pengobatan apa yang mereka kosumsi.

Kalau anada tetap berencana untuk mengkonsumsi obat kuat pria atau viagra, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak melebihi dosis yang di anjurkan.
*dari berbagai sumber