Pada masa awalnya viagra bukanlah digunakan sebagai obat kuat pria. Kemunculan Viagra memiliki sejarah unik. Semula oleh bagian riset Pfizer pil ini dirancang untuk mengobati gangguan tekanan darah tinggi dan angina. Dalam percobaannya atas sejumlah orang, pil ini menghasilkan efek yang luar biasa. Anehnya, mereka yang dipilih untuk menjalani percobaan, kebanyakan tidak mengembalikan pil sisa sampel. Para ahli riset Pfizer menduga pasti ada apa-apanya. Benarlah, rupanya pil ini punya fungsi lain yang lebih menarik yaitu sebagai obat kuat pria.
Bagaimana pil ini bekerja? Secara alamiah, ketika terjadi ejakulasi, tubuh pria akan mengeluarkan enzim yang bertugas menghambat guanosine monophosphate (GMP). Fungsi GMP ini adalah untuk mengendurkan otot penis seperti sedia kala. Viagra atau obat kuat pria yang mengandung bahan aktif sildenafil berfungsi untuk mempertahankan GMP agar tidak dihambat oleh enzim tadi.
Nah, bahan aktif sildenafil tadi akan mengambil alih fungsi enzim yaitu agar otot di jaringan penis mengalami relaksasi yang memungkinkan darah tetap mengalir lancar ke corpus cavernosum sehingga penis pun akan cukup lama berada dalam kondisi tegang selama berlangsungnya coitus.
Dalam percobaannya atas 3.700 orang (550 di antaranya diujicoba lebih dari setahun) usia 19 -87 tahun dengan tingkat impotensi beragam, keberhasilan manfaatnya cukup signifikan, sekitar 60% - 80%.
Menurut aturan pakai, Viagra atau obat kuat pria sebaiknya diminum sejam sebelum berhubungan intim. Akan bekerja secara efektif selama paling lama 4 jam. Meski demikian si pemakai tetap harus memperoleh rangsangan seksual untuk menimbulkan ereksi sebelum obat tersebut bereaksi. Jangan berpikiran bahwa setelah minum pil ini keperkasaan Anda langsung bangkit. Sebenarnya, Viagra atau obat kuat pria ini adalah semacam erection-enchancer.
“Ia akan membantu agar tercapai ereksi normal, meski tidak menyamai pria yang sehat secara seksual. Viagra atau obat kuat pria tak akan mengubah atau meningkatkan libido dan nafsu seksual pria normal. Dengan kata lain ini bukan obat kuat atau aprodisiak bagi pria normal,” ujar Dr. Harin Padma-Nathan, direktur Male Clinic di Santa Monika salah seorang peneliti Viagra.
Pzifer sendiripun mengakui, Viagra atau obat kuat pria akan menimbulkan akibat samping berupa kepala pusing, penglihatan kabur, dan sakit perut. Pemakaian dosis banyak akan mengakibatkan si pemakai tak mampu membedakan warna hijau dengan biru. Karena Viagra tidak membuat orang menjadi ereksi melainkan hanya untuk mempermudah ereksi, maka jangan sekali-kali menyuntikkan pil ini. Akibatnya sangat berbahaya. Bisa membuat pemakai mengalami priapism, dimana pria tersebut justru tak mampu menghentikan ereksinya.
“Seperti diketahui, proses ereksi terjadi karena adanya pelebaran pembuluh darah di penis. Nah, Viagra bekerja melebarkan pembuluh darah di penis tersebut. Namun barangkali, terjadi pula pelebaran pembuluh darah di bagian tubuh yang lain. Itulah yang menimbulkan efek samping,” jelas Dr. Akmal Taher.
“Kalau dikonsumsi bersama obat yang mengandung nitrat, seperti obat penyakit jantung, bisa berisiko kematian karena obat itu memberi efek potensiasi, saling menguatkan. Jadi pelebaran pembuluh darahnya justru akan sedemikian hebat,” tambah Taher.
Salah satu dari sekian dampak yang diakibatkan oleh kemunculan pil baru warna biru bernama Viagra, adalah kematian bagi para penderita jantung dan diabetes.
Gangguan jantung dan diabetes
Selasa 9 Juni 1998, Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) AS melaporkan, 16 orang meninggal setelah mengkonsumsi pil Viagra. Bahkan menurut laporan Wall Street Journal Senin 29 Juni 1998, jumlah itu bertambah menjadi 30 orang. Korban tertua berumur 80 tahun sedangkan yang paling muda umur 48 tahun.
Tak semua bisa diidentifikasi penyebab kematiannya. Dari hasil pemeriksaan, diketahui sebagian besar korban sedang menjalani pengobatan penyakit jantung, diabetes, dan komplikasi beberapa penyakit lain. Sisanya tak diketahui sejarah penyakit dan pengobatan yang dijalani sebelumnya.
Korban yang menderita gangguan jantung ada 6 orang. Dua di antaranya sedang menjalani terapi dengan hytrin. Yang satu mengidap tekanan darah tinggi dan stroke pada bagian yang menghubungkan otak depan dengan tengah. Sementara yang lain menderita gangguan denyut jantung tak teratur yang kronis serta pembesaran prostat. Sebelum meninggal, kedua kakek ini sempat pingsan di tengah aktivitas seksualnya.
Dua lainnya terserang nyeri dada namun tak bisa diselamatkan menyusul gagalnya terapi resusitasi, serta pemberian obat nitroglyserin. Dua korban lain sebelumnya minum obat penurun tekanan darah dan aspirin. Satu setengah jam setelah minum Viagra, mendadak sesak nafas, wajah mereka pucat, dan akhirnya meninggal.
Enam korban diketahui mengidap penyakit diabetes. Salah satunya yang juga memiliki kelainan paru-paru, meninggal setengah sampai satu jam setelah menegak Viagra. Padahal ia belum melakukan hubungan seksual.
Penyebab kematian salah seorang di antaranya adalah detak jantung tak teratur dan aliran darah dari jantungnya tersumbat. Ia meninggal setelah melakukan hubungan seksual. Korban yang lain meninggal di pagi hari setelah malam sebelumnya menegak Viagara. Tak dilaporkan apakah ia sudah berhubungan seks atau belum. Yang jelas kematiannya disebabkan karena cardiopulmonary arrest.
Sementara itu ada korban yang setelah minum Viagra lalu terserang nyeri dada selagi berhubungan seks. Ia lalu diberi obat nitrogliserin dalam ambulan ke rumah sakit. Nyawanya tak tertolong. Korban selanjutnya, sedang dalam tetapi insulin, tewas tak lama setelah minum Viagra. Empat korban lainnya yang meninggal tidak diketahui pasti riwayat penyakit yang diderita sebelum minum Viagra, serta jenis pengobatan apa yang mereka kosumsi.
Kalau anada tetap berencana untuk mengkonsumsi obat kuat pria atau viagra, sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak melebihi dosis yang di anjurkan.
*dari berbagai sumber