Archive for January, 2008

TERIMA KASIH

Tuesday, January 29th, 2008

Ucapan ‘terima kasih’ seharusnya telah menjadi budaya kita sehari-hari selain kata ‘minta maaf’. Kekuatan ucapan ini memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi kita. Perasaan damai mengalir dalam kekuatan ucapan terima kasih. Siapa pun yang mendengar pasti mampu menerima dengan penuh kehangatan dan merasakan persahabatan laksana saudara.

Lalu … mengapa kita mesti ber’terima kasih’?

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan penciptaan sebaik-baiknya. Manusia juga tidak mengetahui makna sebenarnya dari setiap peristiwa apalagi kejadian di masa mendatang .. manusia tidak akan bisa menduganya. Bisa jadi kita adalah seorang ahli dalam membuat suatu perencanaan(planing) dan sanggup membuat kalkulasi/perhitungan yang sangat mendetail tidak hanya dalam satu tahun ke depan namun mungkin hingga 5 - 10 tahun mendatang. Namun kita TIDAK akan dapat mengetahui 0,000000000001 detik di hadapan kita peristiwa yang akan terjadi. Begitu juga dengan semua yang ada disekitar kita, jika kita mampu melihat dan mendengar tentu kita pasti akan selalu ber’terima kasih’.

so.. kepada siapa kita ber’terima kasih’

Terima kasih harus kita ucapkan :

  • Terima kasih karena kita masih bisa membaca tulisan ini di internet, sementara jutaan orang masih belum bisa menyentuhnya
  • Terima kasih karena perut kita masih bisa merasakan kenyang sementara jutaan orang belum tentu mendapatkan makanannya
  • Terima kasih karena telinga kita masih menerima suara-suara kebaikan sementara jutaan orang diluar sana selalu menerima cacian dan hinaan
  • Terima kasih karena mata kita diperlihatkan tanda-tanda alam yang menyadarkan kita sementara diluar sana berjuta-juta orang tak pernah merasakan indahnya alam ciptaan Tuhan
  • Terima kasih karena kita masih diberi kesulitan dan kegagalan sehingga kita bisa kuat dan lebih kuat, sementara diluar sana banyak yang putus asa dengan kegagalan
  • Terima kasih karena diberi kemiskinan sehingga kita bisa bersabar dan berusaha, sementara diluar sana banyak yang diberi kekayaan namun menjadi miskin hatinya
  • Terima kasih karena telah diberi kesepian sehingga kita bisa merenung, bermuhasabah serta memperbaiki diri, sementara diluar sana banyak yang sibuk ditengah keramaian sehingga lupa akan keluarga, anak dan dirinya sendiri.
  • Terima kasih atas segalanya.
  • Terima kasih dalam segalanya.
  • Terima kasih bersama segalanya.
  • Terima kasih kepada-Nya.
  • Terima kasih.

—-

Salam

Memburu Ilmu Soeharto

Tuesday, January 15th, 2008

(Sumber : Detik WAP Portal Opini Senin 14/01/2008)

Banyaknya pejabat yang menjenguk Soeharto yang sakit di RSPP, sangat dimengerti. Soeharto pernah menjadi presiden selama 32 tahun sehingga hampir semua pejabat saat ini adalah bekas anak buahnya. Hubungan senior-yunior atau bapak-anak itu mesti dijaga karena tanpa senior/bapak, yunior/anak tak mungkin menjadi seperti sekarang. Inilah mungkin kesempatan terakhir untuk bertemu dan memberi hormat. Dalam perspektif Jawa, menjenguk orang hebat yang hendak menemui ajal, bukanlah sekadar memberi hormat. Lebih dari itu, para penjenguk bisa berharap akan kejatuhan ilmu yang dimiliki orang yang dijenguknya. Sebab, bagi orang Jawa, tidak ada orang kuat, tidak ada pemimpin hebat, tanpa ilmu yang kuat dan hebat pula. Dan ilmu-ilmu itu akan lepas bersamaan dengan lepasnya nyawa dari yang empunya. Berbeda dengan konsep Barat, ilmu dalam khasanah Jawa adalah sesuatu yang konkret. Jika di Barat ilmu berarti kemampuan otak manusia dalam menampung dan mengolah informasi dan pengetahuan; dalam tradisi Jawa, ilmu adalah hasil dari laku prihatin, misalnya lewat puasa dan bertapa, yang mewujud dalam bentuk benda-benda, seperti cincin, ikat kepala, keris yang memiliki bahkan merasuk dalam tubuh empunya. Itulah kasekten. Sesuatu yang membuat orang menjadi sakti, berilmu. Demikian juga dalam soal kekuasaan. Orang Barat melihat kekuasaan adalah sesuatu yang abstrak: kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi, menggerakkan atau memaksa orang lain. Sementara menurut orang Jawa, kekuasaan adalah sesuatu yang dijatuhkan dari atas kepada orang-orang tertentu. Kekuasaan adalah wahyu, yang hanya diperoleh orang-orang terpilih. Wahyu selalu manjing dalam raga, juga diikuti oleh benda-benda sakti lainnya. Nah, dalam konteks demikian, maka bisa dimengerti bila Soeharto sakit dan kritis, maka para pejabat datang berduyun. Ya, mereka hendak memberi penghormatan terakhir, tapi dalam hatinya mungkin juga berharap akan mendapatkan ilmu dan wahyu yang pernah dimiliki Soeharto. Tak ada yang salah, sebab dalam tradisi Jawa tindakan praktis itu juga kerap dilakukan para pendahulu. Artinya, tanpa laku prihatin, tanpa puasa dan pertapa, jika ilmu atau wakhyu itu mau jatuh ke seseorang, ya jatuhlah. Oleh karena itu pula, siapapun sesungguhnya punya peluang untuk kejatuhan ilmu dan wahyu yang sempat dimililki Soeharto. Makanya jangan heran, setiap Soeharto sakit, pada radius 500 meter dari RSPP banyak orang pintar berkumpul. Mereka datang dari pelosok Jawa bahkan penjuru tanah air. Mereka berharap bisa menangkap atau kejatuhan ilmu atau wahyunya Soeharto yang hendak terbang dari raga. Mereka punya peluang yang sama dengan para pejabat yang keluar masuk rumah sakit.

Salam