Archive for February, 2008

Salut Berat Buat Menkes Siti Fadilah

Monday, February 25th, 2008

Rupanya pemikiran Menkes Siti Fadilah Supari patut diacungi jempol. Sederhana, tegas dan berani. Terbukti dalam tulisan-tulisan di buku berjudul “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung” serasa mendobrak lamunan dunia akan pentingnya keterbukaan.

Menkes merasa penanganan terhadap virus flu burung sangat tertutup. Barangkali karena Menkes telah berkali-kali menginginkan sampel virus flu burung yang telah dikirim, agar dikembalikan lagi, ditolak oleh WHO(AS). Menkes mencurigai pihak-pihak tertentu(dalam hal ini Amerika) akan menggunakan virus tersebut sebagai senjata biologis yang bisa membahayakan umat manusia.

Menkes mencoba menantang dunia. Melawan hegemoni AS. Mampukah dia? Barangkali bukan masalah mampu atau tidak. Tapi suara keberanian ini telah menjulang dan harus kita dukung demi keadilan dan kedamaian.

Viva Menkes.

Salut

Belajar Seks Tidak Dilarang

Wednesday, February 20th, 2008

Belajar Seks Tidak Dilarang

Oleh : Yudi Hardi Susilo

Seksualitas adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Ketidaktahuan terhadap masalah ini, dapat mengakibatkan permasalahan yang lebih kompleks dalam segala bidang kehidupan. Seperti beredarnya penyakit menular seksual, kejahatan seksual, perilaku seksual menyimpang dan sebagainya. Dampak negatif lebih besar yang dapat terjadi akibat masalah seks ini adalah hancurnya suatu bangsa, yang moral penduduknya rusak karena terjerumus masalah seksualitas yang salah.

Salah satu konsep alternatif solusi permasalahan ini adalah adanya tanggung jawab pendidikan seksual. Menurut seorang pakar pendidikan dari Mesir Prof Dr Abdullah Nasih Ulwan, yang dimaksud dengan pendidikan seksual adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah yang berkenaan dengan naluri seks dan perkawinan.

Pendidikan seks ini penting untuk dilaksanakan sesuai fase perkembangan anak. Fase pertama, usia 7 – 10 tahun, disebut masa prapubertas (tamyiz). Di masa ini, anak diberi pelajaran tentang etika meminta izin dan memandang sesuatu. Fase kedua, usia 10 – 14 tahun, disebut masa peralihan atau pubertas (murahaqah). Di masa ini anak dihindarkan dari rangsangan seksual. Fase ketiga, usia 14 – 16 tahun, disebut masa adolesen (baligh) . Di masa ini jika anak sudah siap menikah, maka ia diberi pendidikan tentang etika (adab) mengadakan hubungan seksual. Fase keempat, setelah masa adolesen, disebut masa …..dst selengkapnya lihat artikel

(pernah dimuat di Banjarmasin Post, 12 Januari 2005)

Belajar Memahami Kisah John Q

Tuesday, February 19th, 2008

Belajar Memahami Kisah John Q
(Refleksi Ketidakadilan Sistem Pelayanan Kesehatan)

oleh : Yudi Hardi Susilo, S.Si., Apt

John Q, sebenarnya sebuah judul film yang mengisahkan problematika kehidupan seorang ayah bernama John Quincy. Kesederhanaan hidupnya dengan seorang istri dan anaknya, tidak membuat keluarga ini larut dalam ketidakbahagiaan. Namun kemudian kesulitan ekonomi memaksa John Q untuk bersikap tegar menjalani kehidupan keluarganya, hari demi hari.
Perusahaan tempatnya bekerja, menurunkan status pekerjaannya dari pekerja penuh menjadi pekerja paro waktu yang tentunya dengan fasilitas lebih rendah termasuk dalam jaminan pelayanan kesehatan. Hal ini semakin memperberat kehidupan keluarganya, sampai suatu saat anaknya tercinta yang masih kecil harus dioperasi transplantasi jantung supaya mampu mempertahankan hidupnya.
Biaya operasi yang sedemikian besar untuk pengobatan anaknya itu, harus mengorbankan semua harta benda yang ada di rumahnya dan itu pun belum cukup. Pihak rumah sakit (RS) tidak bersedia melakukan operasi sebelum ada jaminan pembayaran dari John Q. Berbagai upaya telah dilakukan dan semuanya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan anaknya, termasuk klaim asuransi kesehatan dari perusahaan tempat John Q bekerja.
Kecintaan terhadap anaknya, rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan ketidakberdayaan menghadapi prosedur rumah sakit dalam masalah biaya pengobatan, membuat John harus melakukan sesuatu yang berarti khususnya ….. dst selengkapnya lihat artikel

(tulisan ini pernah dimuat di Koran Banjarmasin Post , 21 September 2004)

Sudah Kaya Kok Masih Terima Suap

Tuesday, February 19th, 2008

SUDAH KAYA KOK MASIH TERIMA SUAP
(Kita Masih Perlu Belajar Kepada Sosok Umar bin Abdul ‘Aziz)

Akhir-akhir ini ramai diberitakan kasus suap oleh pengusaha terhadap praktisi hukum yang bernilai milyaran rupiah yang ternyata sangat memprihatinkan karena dibalik perilaku suap ini ternyata kerusakan moral yang diakibatkan akan lebih besar dibandingkan nilai suapnya. Akhlak dan moral masih menjadi “pekerjaan rumah” bagi masyarakat. Keteladan dan kepribadian masih perlu diberikan contoh untuk disimak. Salah satu yang mampu menjadi teladan bagi para pejabat, pemimpin, presiden, gubernur, walikota/bupati ataupun semua pengusaha yang menjadi pimpinan bagi karyawannya, adalah sosok Umar bin Abdul ‘Aziz.
Alkisah pada zaman kekhalifahan Umar bin Abdul ‘Aziz diceritakan bahwa seorang wanita datang kepada Umar dan berkata,” Sesungguhnya saya mempunyai lima putri yang tidak laku-laku dan belum menikah.” Maka Umar menangis dan berkata,”Lima orang gadis tidak laku-laku dan tidak bisa berbuat apa-apa.” Ia menulis surat kepada pegawainya, “Berilah jatah untuk kelima gadis tersebut seluruh kebutuhan mereka.” Maka empat dari lima gadis itu berkata,”Alhamdulillah!” Sedangkan yang kelima mengatakan, “Terima kasih untukmu” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya aku memberimu agar kamu memuji Allah. Tetapi kamu berterima kasih kepadaku, maka aku tidak mempunyai apa-apa untukmu. Mintalah kepada empat saudara perempuanmu agar mereka memberimu sebagian jatah mereka.” Jadi, Umar tidak mau memberi dengan tujuan mendapatkan ucapan terima kasih. Bahkan, Umar tidak mau menerima ….. dst selengkapnya lihat artikel.

Salam

Hak Pasien Atas Obat

Tuesday, February 19th, 2008

HAK PASIEN ATAS OBAT

oleh : Yudi Hardi Susilo, Apt*

Yang dimaksud dengan obat disini adalah semua zat baik itu kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Di beberapa pustaka disebutkan bahwa tidak semua obat memulai riwayatnya sebagai obat anti penyakit, namun ada pula yang pada awalnya digunakan sebagai alat ilmu sihir, kosmetika, atau racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine dan kurare mulanya digunakan sebagai racun-panah penduduk pribumi Afrika dan Amerika Selatan. Contoh yang lebih baru ialah obat kanker nitrogen-mustard yang semula digunakan sebagai gas-racun (mustard gas) pada perang dunia pertama. (Obat-obat Penting,2002).
Di kalangan masyarakat istilah obat biasanya dikenal dalam berbagai pengelompokan, seperti : obat paten, obat generik, obat tradisional/jamu, obat keras, narkotika, obat dengan resep, obat tanpa resep, obat racikan, obat cina dan istilah obat lainnya misalnya yang berkaitan dengan harga misalnya istilah obat murah dan obat mahal. Pengertian obat paten atau dalam kamus obat dikenal dengan nama spesialite adalah obat milik suatu perusahaan dengan nama khas yang dilindungi hukum, yaitu merek terdaftar atau proprietary name. Sedangkan yang dimaksud dengan obat generik adalah nama obat sesuai dengan kandungan zat berkhasiat obat tersebut. Sebagai contoh : Asam Mefenamat (nama/obat generik) terdapat dalam obat paten seperti Ponstan, Mefinal, Pondex, Topgesic dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan Amoxycillin(nama/obat generic) terdapat dalam nama obat paten seperti Amoxsan, Kalmoxillin, Kimoxil, dan juga masih banyak lagi nama obat paten dengan kandungan yang sama.
Walaupun berisikan kandungan zat berkhasiat dengan nama generik/official yang sama namun setiap obat paten mempunyai harga yang berbeda-beda dari pabrik yang memproduksiya. Perbedaan harga tersebut umumnya terkait dengan ….. (tulisan ini pernah dimuat pada Koran Banjarmasin Post tahun 2006)

(selengkapnya lihat artikel)