Archive for May, 2008

Weekend … oh weekend

Friday, May 30th, 2008

Kemana ya ……

Kita adalah Air

Thursday, May 29th, 2008

Sumber Pustaka : The True Power of Water by Masaru Emoto (edisi Bahasa Indonesia)

Dalam penelitian saya, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat saya yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah : Air.

Pada konsep terbentuknya manusia, telur yang dibuahi 96%-nya adalah air. Setelah lahir, 80% tubuh seorang bayi adalah air. Semakin tubuh manusia berkembang, persentase air berkurang dan menetap sampai batas 70% ketika manusia mencapai usia dewasa. Dengan kata lain, selama ini kita hidup sebagai air. Jadi, sebenarnya manusia adalah air.

Kita juga dapat mengatakan bahwa awal kehidpan dimulai dari air dan akan berakhir dengan air. Fetus yang berkembang dalam rahim seorang ibu menggambarkan proses diri kita—yang berasal dari ‘laut’ hingga terbentuk manusia. Cairan amnion dalam kandungan ibu mempunyai komponen yang mirip dengan komponen yang ada pada air laut. Selanjutnya, fetus menunggu waktu kelahirannya dalam ‘lautan’ di rahim ibu dengan bernafas melalui plasenta.

Air juga berperan penting saat kita meninggal. Di Jepang, kami mempunyai kebiasaan memberikan air kepada orang yang telah meninggal. Dengan memakai bola kapas atau daun pohon Shikimi, kami membasahi bibir orang yang meninggal, kemudian mengiringinya dengan doa, agar orang meninggal tersebut dapat hidup kembali. Kebiasaan ini didasari pemahaman bahwa air merupakan sumber kehidupan.

Jika kita mengambil gambar air, akan terlihat bahwa setelah air dibekukan, kristal tidak akan segera terbentuk. Dengan menggunakan mikroskop, kita dapat mengobservasi proses pembentukan kristal. Kristal berkembang sedikit demi sedikit dan menyempurnakan susunannya dalam satu atau dua menit.  Waktu yang diperlukan sebuah kristal mulai dari muncul, berkembang, dan menghilang, adalah dua menit. bagi saya, proses ini melambangkan nilai kehidupan. Seorang anak tumbuh menjadi dewasa. Setelah dewasa, terkadang ia menyia-nyiakan hidupnya, lalu meninggal. Air merefleksikan proses kehidupan itu sendiri.

Karena kualitas air bergantung pada informasi yang diterimanya, konsekuensi logisnya adalah manusia—sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air—sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit.

Pendek kata, kita adalah air. Dengan mengonsumsi air yang baik, kita dapat mempertahankan kesehatan. Sayangnya, air murni yang baik telah menjadi komoditas yang mahal harganya. Pada abad yang lalu banyak terjadi peperangan untuk memperebutkan sumber panas, yaitu minyak. Sebagian orang memprediksi bahwa pada abad ini akan terjadi peperangan untuk memperebutkan air.

(dituliskan kembali untuk : blog.yudihardis.com)

Ibu Bekerja, Penting Lho!

Wednesday, May 28th, 2008

(sumber : arsip tulisan Majalah Hidayatullah 2004)

Konsep keluarga dengan satu pencari nafkah, diamini hampir oleh seluruh agama bahkan budaya yang ada di bumi ini. Laki-laki mencari uang dan sang perempuan mengurus rumah. Konsep ini mungkin sama tuanya dengan stigma laki-laki sebagai pemimpin keluarga. Kendati terus menjadi bahan perdebatan antara kaum feminis dan non feminis, kedua konsep ini terus mengalami perubahan dari masa ke masa.

Adalah Brenda Barnes, pemimpin Pepsi Co North Amerika yang mengguncang konsep ibu bekerja ketika dengan ringan berhenti dari pekerjaannya. Tahun 1997, setelah 9 tahun berkarier di Pepsi, Brenda memutuskan berhenti. Ia lalu memusatkan perhatiannya kepda keluarga. Sikap ini sungguh mengejutkan. Karena seorang CEO yang memiliki gaji jutaan dolar saja tidak sungkan-sungkan kembali ke dapur, mengapa perempuan yang lain malah ingin bekerja?

Sebenarnya, titik poin masalah bukanlah seberapa penting pekerjaan bagi kaum perempuan. Atau, bolehkah perempuan bekerja, haruskah, wajibkah? Tentu saja, sebagai umat-Nya, kita percaya pembagian tanggungjawab dan wewenanglah yang menyebabkan beban ekonomi berada di pundak kaum bapak. Sedang kaum perempuan diberi keleluasaan untuk memilih apakah ingin bekerja atau tidak. Ada banyak alasan mengapa ibu bekerja menjadi penting.

Betul ayah wajib mencari nafkah, tetapi ibu pun penting pula untuk dibiasakan bekerja. Entah pekerjaan itu menghasilkan uang banyak atau malah tekor. Tetapi pembiasaan ini amat penting karena kita tidak ingin menjadi tidak siap bila tulang punggung utama patah, bukan?

Bekerja, tentu tidak mesti berseragam, menenteng tas, bergelayut di bus kota dan punya kantor. Seiring kemajuan zaman, konsep bekerja kini telah bergeser. dari pakaian berdasi menjadi baju terusan  dengan bahan katun. Dari tas kerja menjadi hanya sebuah handphone, misalnya. Tentu saja bekerja berarti tidak mesti harus meninggalkan rumah. Inilah berkah bagi kaum perempuan. Karena kini, perempuan tidak lagi terbebankan dengan bekerja, bila bekerja menjadi keharusan demi menambah ekonomi keluarga, misalnya. Kini, perempuan bisa bekerja mencari nafkah sambil bersilaturahmi (bisnis mlm), sambil menyuapi si kecil (bisnis catering) atau misalnya menunggu waktu tidur anak sambil menulis buku.

Begitu banyak pilihan pekerjaan bagi kaum ibu tanpa harus meninggalkan rumah, menelantarkan nyawa-nyawa kecil dan menisbihkan waktu yang terbuang. Pentingnya ibu bekerja juga harus dilihat dari sisi re-generasi. Karena, walau bagaimana pun ibu adalah tulang punggung kedua setelah ayah dalam keluarga. Nah, bila tulang pertama patah, bukankah tulang kedua diharapkan bisa menegakkan badan? tetapi, bila tidak pernah dipakai, ibarat mesin, apa bisa berfungsi?

(ditulskan kembali untuk : blog.yudihardis.com)  

Tokoh, Kata dan Sejarah

Tuesday, May 27th, 2008

TOKOH, KATA DAN SEJARAH

(Sumber : Tulisan dari M. Anis Matta, LC , Utan Kayu, Jakarta , 6 Desember 1999)

“Kata adalah sepotong hati,” kata Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi, pemikir dan pemimpin pergerakan Islam di India. Tetapi memang begitulah kebiasaan para pelaku sejarah yang memenuhi lembaran sejarah umat manusia memaknai kata. Pemaknaan seperti itu terasa lebih kental di kalangan para pemikir, penulis, orator, maupun para pemimpin informal yang seluruh atau sebagian besar pengaruhnya bertumpu pada kekuatan kepribadian mereka.

Kekuatan kata terutama dibentuk oleh muatan pikiran yang dikandungnya serta kadar emosi yang menyertai kata itu saat ia lepas dari mulut atau pena. Pikiran-pikiran yang kuat tersusun secara sistematis dalam logika, terbangun dari kerangka referensi yang luas, solid, integral, dan terekam secara jelas-sejelas matahari dalam benak–, sudah pasti akan menemukan bentuk-bentuk ungkapannya sendiri yang unik dan mempesona saat ia meluncur dalam ucapan atau mengalir dalam tulisan.

Tetapi muatan pikiran yang kuat saja tidak cukup. Ada faktor lain yang memberikan kekuasaan pengaruh kepada kata. Yaitu kekuatan keyakinan yang dirasakan seseorang terhadap pikiran-pikirannya, sejenis emosi yang memberikan geloran pada pikiran-pikiran itu dan membuatnya seperti api yang membara atau gelombang yang membadai. Itulah yang membuat setiap jiwa yang berdiri di hadapannya terpesona dan semua akal yang menantangnya luruh tertunduk oleh kekuasaan logikanya.

Keyakinan dan emosi yang menyertai kata sesungguhnya merupakan ruh yang memberikan kehidupan kepada kata itu. Maka ada kata yang lahir dan langsung mati, karena ia tidak mempunyai ruh, walaupun kata itu dibalut oleh ribuan hiasan. Ada pula kata yang tampak sederhana tapi lahir dengan membawa ruh kehidupan, maka ia menjelma dalam kenyataan dan menjadi abadi dalam sejarah.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?” (Ibrahim : 24 - 28)

Itulah sebabnya, kata merupakan salah satu indikator yang paling akurat untuk mengukur kadar keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan seseorang di satu sisi dan disisi yang lain, warna dan jenis kepribadiannya. Kata yang tertulis mungkin lebih banyak menunjukkan wawasan dan pengetahuan seseorang dibanding warna dan jenis kepribadiannya. tetapi, kata yang terucap dapat , menunjukkan wawasan dan pengetahuan serta kepribadian seseorang sekaligus. Pidato seorang tokoh sejarah, dengan begitu, lebih dapat menggambarkan wawasan, pengetahuan, dan kepribadiannya ketimbang misalnya buku-buku yang ditulisnya.

Maka pidato-pidato tokoh sejarah dapat menggambarkan kepada kita seperti apakah tempat yang layak bagi tokoh tersebut dalam sejarah. Pidato-pidato itu dapat menggambarkan keluasan wawasan, kedalaman pengetahuan, dan kekuatan kepribadiannya sekaligus. dan jika itu benar, kita segera akan mendapatkan jejak menelusuri ruang lingkup aksi-aksi kesejarahannya.

(dituliskan kembali untuk : blog.yudihardis.com)

Di Balik Air Mata Wanita

Tuesday, May 27th, 2008

DI BALIK AIR MATA WANITA

(Sumber : Tulisan dari Ida S. Widayanti, Arsip Majalah Hidayatullah Mei 2004)

Wanita sangat mudah menitikkan air mata. Mengapa demikian? Tak banyak yang tahu termasuk wanita itu sendiri. Kaum lelaki umumnya mengatakan bahwa wanita kerap menangis tanpa sebab yang jelas. Karena tangisan itu, wanita dianggap lemah. Namun anehnya, justru banyak lelaki tidak tahan dengan air mata wanita. Mereka langsung jatuh kasihan, terlebih jika air mata itu mengalir dari perempuan yang dikasihi. Sebab itu dikatakan air mata senjata ampuh wanita.

Mengapa wanita mudah menangis? Benarkah itu pertanda bahwa wanita cengeng? Haruskah air mata ditahan?   Tinjauan Fisik dan PsikisDi Amerika ada lembaga khusus yang meneliti mata dan air mata. Lembaga tersebut bernama Dry Eye and Tears Research Center (Intisari). Sang direktur William H. Frey II, melakukan penelitian kandungan air mata yang disebabkan dua keadaan. Pertama air mata karena suasana hati dan kedua karena mata tercemar. Kelompok pertama diminta menyaksikan film mengharukan untuk menghasilkan air mata akibat emosi, dan yang kedua dipapar uap bawang merah untuk air mata rangsang tercemar. Setelah diteliti, air mata dari dua keadaan itu sama-sama mengandung tiga senyawa kimia yang dihasilkan tubuh selama perasaan tertekan. Protein tersebut adalah leusinenkefalin yang berfungsi mengatasi rasa sakit; adrenokortikotropik, yaitu hormon penanda perasaan tertekan dan penghilang rasa sakit; serta prolaktin, hormon peningkat produksi air mata dan pengatur produksi air susu.  Dari penelitian tersebut Frey menemukan bahwa kelenjar air mata melarutkan dan mengeluarkan mangan (Mn, mineral yang terlibat dalam perubahan suasana hati). Air mata emosional mengeluarkan protein 24% lebih banyak daripada air mata rangsang tercemar. Kadar prolaktin dalam serum darah wanita dewasa hampir 60% lebih tinggi daripada pria. Ini bisa menjelaskan mengapa wanita menangis empat kali lebih sering daripada pria, dan wanita menopause yang kadar prolaktinnya berkurang, lebih jarang menangis.  Dari 85% sukarelawan wanita dan 73% pria mengaku lebih lega setelah menangis. Frey menduga, air mata membuang zat beracun yang terkumpul di dalam tubuh akibat rasa tertekan. Dapat disimpulkan bahwa secara fisik dan psikis, menahan tangis tak baik karena mengurangi kemampuan seseorang menenggang rasa tertekan (yang merangsang pembentukan zat beracun dalam tubuh).  Tinjauan AgamaDalam Islam, menangis merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap kebenaran. Dalam Al Quran dikatakan bahwa “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam). (QS. Al-Maidah ayat 83).  Rasulullah saw dan para sahabat benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Kelembutan hati mengantarkan mereka kepada derajat tertinggi sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala. Suatu ketika Abdullah bin Umar berjalan di hadapan sebuah rumah yang penghuninya sedang membaca Al Quran. Ketika sampai pada ayat Al Quran yang tafsirnya,” …(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al-Muthaffifiin ayat 6), pada masa itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Tuhannya. Kemudian beliau menangis.  Abu Bakar digelari oleh putrinya Ummul Mukminin Aisyah RA sebagai Rojulun Hakiy (orang yang senantiasa menangis). Beliau sangat sering menangis, dadanya bergolak ketika shalat bersama rasulullah karena mendengar ayat-ayat Al Quran. Begitulah para sahabat dan pengikut Nabi banyak mencucurkan air mata karena meyakini kebenaran yang dibawa Rasulullah saw.  Menangis akan sulit jika hati dalam keadaan tidak peka. Tak mudah menemukan air mata, ketika berdoa sendirian bila hati tidak lembut. Pada masa ketika kehidupan diliputi gemerlap dunia, seorang mukmin harus senantiaa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Menangis merupakan hal positif jika merupakan refleksi dari kesadaran. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya ketika tiada lagi yang sanggup menolongnya melainkan hanya Allah. Sadar bahwa hanya Allahlah tempat bergantung. Kesadaran yang menimbulkan kerendahan hati dan membawa manfaat dunia dan akhirat. Di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan pada hari di mana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Rabb-nya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata.  Air mata juga bisa menjadi penawar duka, ketika rasa sedih menyempitkan perasaan dan menyesakkan dada. Namun, setetes air mata kerana takut pada Allah akan jauh memiliki keindahan. Penghuni surga ialah mereka yang sering menangis di dunia karena Allah. Manusia senantiasa berada dalam dua tangisan yaitu tangisan karena Allah dan tangisan bukan karena Allah. Tangisan pertama adalah tangisan yang disukai Allah, sedangkan yang kedua meski dapat mengurangi beban perasaan namun tidak bernilai ibadah. Wahai para wanita, menangislah seperti Saidina Umar yang selalu berkata pada dirinya sendiri,”Jika kiranya semua manusia ke dalam surga kecuali seorang, aku takut akulah orang itu.” Menangislah di kala membaca Al Quran, menagislah di kala berdoa di sepertiga malam terakhir, tangisilah kekurangan dan kelemahan diri.  Dituliskan kembali untuk :Blog.yudihardis.com