Rumah, dalam bahasa Arab—selain disebut bait—disebut pula sakan (ketenangan), karena ia merupakan tempat dimana istri dan anak-anaknya berada. Banyak hadits yang membicarakan ini. Dikatakan oleh rasululullah saw,”Yang dapat memberikan faedah bagi seorang mukmin setelah ketaqwaan kepada Allah adalah istri yang shalihah.” Demikian juga harta yang dinafkahkan untuk keperluan rumah tangga, juga termasuk bentuk jihad fi sabilillah.
Di antara kaidah-kaidah Islam adalah anjuran untuk mencintai rumah dengan cinta yang setulus-tulusnya. Akan tetapi jika Anda menggunakan prinsip ini untuk melihat kehidupan kita, engkau mendapati bahwa kita sebenarnya telah ‘meninggalkan rumah’ kita, beralih ke berbagai panggung hiburan, gedung film, tempat pesta, dan kedai-kedai kopi, sembari menganggap bahwa rumah kita tidak lebih kecuali ‘penjara’. Sampai di desa-desa pun perilaku ini yang berkembang. Di setiap tempat terdapat kedai kopi yang penuh sesak oleh pengunjung.
Tunjukkan kepadaku, Ikhwan sekalian, manakah hakikat pelipur jiwa yang engkau dapati di tempat-tempat semisal ini. Yang ada di sana hanyalah pelarian, pikiran negatif, terkadang bahkan pertumpahan darah. Adalah Rasulullah saw. pulang ke rumahnya dengan membawa sendiri sang cucu: Hasan dan Husain. Suatu ketika Al-Aqra’ bin Habis berkunjung ke rumah Umar ra. dan mendapatinya tengah bercengkerama dengan putra-putranya. Al-Aqra’ lalu berkata,”Apa-apaan ini wahai Umar?” Umar menjawab,”Mereka anak-anakku. Mereka adalah rahmat.” Al-Aqra’ berkata,”Saya mempunyai sepuluh anak. Jika saya masuk ke tempat mereka, seketika itu yang berbicara langsung diam dan yang berdiri langsung duduk.” Umar berkata,”Subhanallah, jika engkau tidak pernah menyayangi anak-anakmu, lalu bagaimana mungkin kamu akan menyayangi orang lain? Kamu jauh dari apa yang kami lakukan.”
Kehidupan rumah menjadi kehidupan yang sangat membahagiakan bilamana engkau menjauhkan diri dari segala yang dimurkai oleh Allah. Kami tidaklah mengatakan,”Kurunglah dirimu di dalam rumah!” Akan tetapi disesuaikan dengan tempo-temponya. Berikanlah kepda setiap yang memiliki hak itu haknya. Berangkatlah menuju pekerjaanmu dan tunaikanlah dengan sebaik mungkin. Kemudian kembalilah ke rumah dan tunaikanlah pula haknya.
Adalah aneh, Ikhwan sekalian, bahwa Inggris—sebagai salah satu negara Eropa—tidak memiliki satu warung kopi pun. Yang ada hanya berbagai asosiasi yang menampung berbagai kelompok pekerja. Namun musibah yang terbesar adalah, kaum wanitanya meninggalkan rumah untuk bekerja dengan lelaki. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa kebiasaan ini bakal menulari, menyerang, dan akhirnya menghancurkan kita. Seandainya itu dibiarkan terus, pasti hancur leburlah fondasi keluarga, dan bersamaan pula dengan itu hancur pula Islam.
Islam sebenarnya telah menggariskan batas-batas etika berumah tangga, namun kita justru mengabaikannya. Islam mewajibkan kepada kaum lelaki untuk menjaga dan memeliharanya, sekaligus menjadikan urusan itu sebagai tanggung jawabnya. Islam juga menuntut kaum lelaki untuk memberikan sandang pangan, memelihara hak-hak keluarga, serta mengajarkan akhlak dan agama kepada anggota keluarga mereka. “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Nabi bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat selagi mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (ketika tidak mau mengerjakan) ketika mereka berumur sepuluh tahun, lalu pisahkan antara mereka dalam hal tempat tidur!”
Ia juga harus berupaya memelihara perintah-perintah agama secara utuh. Jangan sampai di dalam rumahnya ia berbuat kemungkaran, agar keluarganya pun tercetak menjadi orang-orang yang senang kepada kebaikan. Ia juga harus mengajarkan adab-adab Islam kepda mereka, misalnya meminta izin, mengucapkan salam, memberi penghormatan, dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang disebut secara global oleh Al-Qur’an dan telah diperinci oleh Sunnah. Nabi saw. pernah mengatakan, “sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Kita memohon kepada Allah, kiranya berkenan memberikan taufiq dan petunjuk kepda kita untuk dapat mengamalkan itu semua. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, terhadap keluarga, dan para shabatnya.
(sumber : Hadits Tsulasa’, Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna)