Archive for June, 2008

Rumah

Monday, June 30th, 2008

Rumah, dalam bahasa Arab—selain disebut bait—disebut pula sakan (ketenangan), karena ia merupakan tempat dimana istri dan anak-anaknya berada. Banyak hadits yang membicarakan ini. Dikatakan oleh rasululullah saw,”Yang dapat memberikan faedah bagi seorang mukmin setelah ketaqwaan kepada Allah adalah istri yang shalihah.” Demikian juga harta yang dinafkahkan untuk keperluan rumah tangga, juga termasuk bentuk jihad fi sabilillah.

Di antara kaidah-kaidah Islam adalah anjuran untuk mencintai rumah dengan cinta yang setulus-tulusnya. Akan tetapi jika Anda menggunakan prinsip ini untuk melihat kehidupan kita, engkau mendapati bahwa kita sebenarnya telah ‘meninggalkan rumah’ kita, beralih ke berbagai panggung hiburan, gedung film, tempat pesta, dan kedai-kedai kopi, sembari menganggap bahwa rumah kita tidak lebih kecuali ‘penjara’. Sampai di desa-desa pun perilaku ini yang berkembang. Di setiap tempat terdapat kedai kopi yang penuh sesak oleh pengunjung.

Tunjukkan kepadaku, Ikhwan sekalian, manakah hakikat pelipur jiwa yang engkau dapati di tempat-tempat semisal ini. Yang ada di sana hanyalah pelarian, pikiran negatif, terkadang bahkan pertumpahan darah. Adalah Rasulullah saw. pulang ke rumahnya dengan membawa sendiri sang cucu: Hasan dan Husain. Suatu ketika Al-Aqra’ bin Habis berkunjung ke rumah Umar ra. dan mendapatinya tengah bercengkerama dengan putra-putranya. Al-Aqra’ lalu berkata,”Apa-apaan ini wahai Umar?” Umar menjawab,”Mereka anak-anakku. Mereka adalah rahmat.” Al-Aqra’ berkata,”Saya mempunyai sepuluh anak. Jika saya masuk ke tempat mereka, seketika itu yang berbicara langsung diam dan yang berdiri langsung duduk.” Umar berkata,”Subhanallah, jika engkau tidak pernah menyayangi anak-anakmu, lalu bagaimana mungkin kamu akan menyayangi orang lain? Kamu jauh dari apa yang kami lakukan.”

Kehidupan rumah menjadi kehidupan yang sangat membahagiakan bilamana engkau menjauhkan diri dari segala yang dimurkai oleh Allah. Kami tidaklah mengatakan,”Kurunglah dirimu di dalam rumah!” Akan tetapi disesuaikan dengan tempo-temponya. Berikanlah kepda setiap yang memiliki hak itu haknya. Berangkatlah menuju pekerjaanmu dan tunaikanlah dengan sebaik mungkin. Kemudian kembalilah ke rumah dan tunaikanlah pula haknya.

Adalah aneh, Ikhwan sekalian, bahwa Inggris—sebagai salah satu negara Eropa—tidak memiliki satu warung kopi pun. Yang ada hanya berbagai asosiasi yang menampung berbagai kelompok pekerja. Namun musibah yang terbesar adalah, kaum wanitanya meninggalkan rumah untuk bekerja dengan lelaki. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa kebiasaan ini bakal menulari, menyerang, dan akhirnya menghancurkan kita. Seandainya itu dibiarkan terus, pasti hancur leburlah fondasi keluarga, dan bersamaan pula dengan itu hancur pula Islam.

Islam sebenarnya telah menggariskan batas-batas etika berumah tangga, namun kita justru mengabaikannya. Islam mewajibkan kepada kaum lelaki untuk menjaga dan memeliharanya, sekaligus menjadikan urusan itu sebagai tanggung jawabnya. Islam juga menuntut kaum lelaki untuk memberikan sandang pangan, memelihara hak-hak keluarga, serta mengajarkan akhlak dan agama kepada anggota keluarga mereka. “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)

Nabi bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat selagi mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (ketika tidak mau mengerjakan) ketika mereka berumur sepuluh tahun, lalu pisahkan antara mereka dalam hal tempat tidur!”

Ia juga harus berupaya memelihara perintah-perintah agama secara utuh. Jangan sampai di dalam rumahnya ia berbuat kemungkaran, agar keluarganya pun tercetak menjadi orang-orang yang senang kepada kebaikan. Ia juga harus mengajarkan adab-adab Islam kepda mereka, misalnya meminta izin, mengucapkan salam, memberi penghormatan, dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang disebut secara global oleh Al-Qur’an dan telah diperinci oleh Sunnah. Nabi saw. pernah mengatakan, “sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”

Kita memohon kepada Allah, kiranya berkenan memberikan taufiq dan petunjuk kepda kita untuk dapat mengamalkan itu semua. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, terhadap keluarga, dan para shabatnya.

(sumber : Hadits Tsulasa’, Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna)

HATI

Monday, June 23rd, 2008

(Sumber : Hadits Tsulatsa’, Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna)

Hati memiliki kecenderungan, gejolak, anasir, prototip, dan substansi, yang menjadikannya bisa bersifat rabbani sekali waktu, atau syaithani di waktu lain. Agama ini datang untuk mengarahkan hati menuju hakikatnya yang lurus. Apakah hakikat hati yang lurus itu?

Hati seorang mukmin adalah hati yang sensitif dan terbuka. Yakni terbuka untuk menerima sesuatu, jauh dari sifat yang keras. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. Mereka akan memperoleh beberapa derajat di sisi Tuhannya, juga mendapat ampunan dan rezeki yang mulia.” (An-Anfal: 2 - 4) “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang patuh. Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.” (Al-Hajj:34-35)

Dalam hati seorang mukmin terdapat dinamika, sensitivitas, dan perasaan. Ia jauh dari alpa, jauh dari sifat kasar dan membatu, serta jauh dari kecurangan. Hatinya senantiasa peka, sehingga ia senantiasa melakukan koreksi diri atas berbagai dosa yang dilakukan.

Sensitivitas merupakan keharusan hati orang-orang beriman. “Orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” (Al-Hajj: 35)

Adapun hati orang-orang yang tidak beriman keras membatu. “Maka celakalah orang-orang yang hati mereka telah keras membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar : 22)

Hati seorang mukmin yang dikehendaki oleh Islam adalah hati yang senantiasa merasakan adanya hubungan dengan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar. Ia selalu bersama Allah dan tidak pernah berpisah sekejap pun.

(dituliskan kembali untuk blog.yudihardis.com)

WORK ON SUNDAY

Sunday, June 22nd, 2008

Hari minggu pun kerja …. gak ada liburnya.

Kerja keras kerja keras kerja keras

One Stop Service

Saturday, June 21st, 2008

Tentang OSS
Pelayanan perijinan terpadu atau OSS (One Stop Service) adalah sebuah satuan kerja di tingkat pemerintahan kota/kabupaten yang secara memberikan pelayanan untuk memproses berbagai dokumen publik, khususnya perizinan usaha dan investasi.  Perizinan usaha dan investasi yang selama ini mengandung konotasi negatif : terlalu banyak, berbelit-belit, membutuhkan waktu lama dan mahal, diharapkan akan dapat lebih disederhanakan melalui pelayanan satu atap satu pintu (terpadu) yang memangkas beban administratif bagi pemerintah daerah dan memudahkan pelaku usaha mendapatkan akses sumberdaya untuk pengembangan usahanya.

Konsep
Lembaga ini merupakan ujung tombak pelayanan perizinan, dimana pemohon tidak perlu mendatangi berbagai instansi untuk mendapatkan izin. Pemohon hanya tinggal pergi ke kantor OSS untuk mengajukan permohonan berbagai ijin usaha atau investasi yang dibutuhkan dan di OSS pula izin yang keluarkan pemerintah daerah akan diterima pemohon, sehingga OSS dan seluruh kelengkapannya berupa

1.       Pengembangan Teknologi informasi untuk kelancaran proses perijinan dan komunikasi dengan dunia usaha 2.       Standar pelayanan minimal (SPM) yang dikomunikasikan kepada publik 3.       Sistem penghitungan kepuasan pengguna secara berkala Mengapa?
Tujuan dari dibentuknya OSS untuk memberikan kemudahan pada dunia usaha karena dapat menciptakan iklim kondusif yang dapat meningkatkan kegairahan dunia usaha. Disamping melayani perizinan, OSS dapat dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah daerah untuk memberikan semua informasi yang dibutuhkan masyarakat. Melalui OSS dengan seluruh kelengkapannya, pengurusan perizinan usaha akan menjadi mudah dan murah yang membuat pelaku usaha terhindar dari biaya ekonomi tinggi yang biasanya terjadi pada saat proses pengurusan izin.
Prinsip Pelayanan OSS:

1.       Sederhana 2.       Reliabilitas 3.       Tanggung Jawab 4.       Kecakapan petugas 5.       Kemudahan akses 6.       Ramah 7.       Terbuka 8.       Komunikasi  petugas & pelanggan 9.       Kredibilitas 10.   Kejelasan & Kepastian 11.   Keamanan 12.   Mengerti kebutuhan pelanggan 13.   Wujud nyata 14.   Efisien 15.   Ekonomis  

SUMBER : http://oss-center.net/

Bersahabat Orang Padang

Friday, June 20th, 2008

(sumber : Tulisan Muhamad Najib, Mengenal Amien Rais Melalui Anekdot & Kisah Nyata)

Dalam perjalanan kembali dari Padang menuju Jakarta, Pak Amien didampingi oleh beberapa kawan asal Minang, seperti, Edi Yosfi dan kakaknya bernama Andre Doni, juga anggota DPR asal Sumbar Patrialis Akbar, serta Wakil Wali Kota Batam Azman Abnur. Kami semua duduk di Kelas Bisnis; Pak Amien duduk di kursi paling depan sebelah kanan dekat jendela ditemani Edi Yosfi, di belakangnya duduk Patrialis Akbar dan Azman, kemudian saya dan Doni.

Sejak pesawat tinggal landas meninggalkan Kota Padang, saya perhatikan Pak Amien ngobrol serius Edi, dan saya ngobrol dengan Doni yang duduk berdekatan, sementara Patrialis tidur nyenyak kelelahan. Setelah beberapa waktu Pak Amien juga tertidur, sehingga membuat Edi gelisah sendirian. Dia lalu menoleh ke belakang. Mungkin karena melihat kami asyik ngobrol, dia kemudian pindah ke belakang bergabung dengan kami. Edi pandai bercanda sehingga membuat kami tertawa terus.

Mungkin karena mendengar berisik tawa kami yang tak pernah berhenti, Patrialis terbangun dan bergabung ngobrol. Sekadar untuk mengimbangi cerita-cerita Edi, saya kemudian menyampaikan satu cerita fiktif; Dalam Rapat Harian DPP PAN, seorang peserta bertanya dengan nada protes, katanya, “Kenapa orang-orang kepercayaan Pak Amien, kok orang Padang semua, mulai dari Edi Yosfi, Teja Tamin, Jeffrie Geovanie sampai Azman Abnur!” Para peserta terdiam semua dan tidak ada yang bisa menjawab ataupun memberikan komentar. Setelah beberapa saat, terdengar suara dari seorang Wakil Sekjen yang duduk agak jauh, sambil mengangkat tangan; dia berbicara dengan nada tanya,” Siapa bilang orang Padang semua? Bukankah di sana juga ada Fuad Bawazir?” “Siapa bilang Fuad bukan orang Padang?” sahut salah seorang Bendahara dengan nada tidak kalah seriusnya. Para peserta tampak heran dan saling memandang, karena mereka tahu bahwa Fuad orang Jawa tengah yang lahir dan besar di Cilacap. Di tengah rasa penasaran itu, dia melanjutkan,”Bukankah dia orang Padang Pasir?”

Tawa Edi dan kawan-kawan meledak, diikuti teman-teman lain yang ikut berkumpul di kursi belakang, sehingga seluruh penumpang menoleh ke belakang, termasuk Pak Amien. Dengan wajah penasaran beliau terus memperhatikan kami, mungkin ingin tahu mengapa kami begitu gembira. Mungkin karena melihat Pak Amien duduk sendiri, Edi kemudian segera kembali ke tempat semula di sebelah Pak Amien. Edi kemudian menceritakan “cerita” yang membuat kami terbahak-bahak. Wajah Pak Amien tampak kaget, rupanya dia baru sadar kalau dikitari orang Padang. Dia segera berdiri, dengan senyum dan wajah ceria mendekati Fahmi Idris yang ditemani Agung Laksono, dua orang tokoh Golkar yang duduk di seberang. Beliau kemudian mengulang cerita itu pada Fahmi yang berasal dari Sumatera Barat. Fahmi tertawa dan memberi komentar, “Ada satu lagi Pak Amien! Abdillah Toha,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

(dituliskan kembali untuk blog.yudihardis.com)