Archive for August, 2008

Keutamaan Bulan Ramadhan

Friday, August 29th, 2008

BULAN Ramadhan adalah bulan yang menduduki tempat yang tertinggi, makanya menjadi pembahasan pemikir Islam. Karena Allah SWT telah mengumpulkan kepadanya (bulan ramadhan) itu kebajikan, Nur dan hidayah yang sangat luas samuderanya.


Didalam bulan ramadhan itu pula Allah SWT pertama kali menurunkan Al-Qur’an itu terkenal dengan Nuzulul Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : “bulan ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang baik dan yang bathil). Selain itu juga di dalam bulan ramadhan, terdapat satu malam yang sangat mulia dan terbaik. Malam yang ditunggu umat Islam, hanyalah malam lailatul qadar. Malam yang lebih utama dari seribu bulan. Sebab bila seseorang beribadah dibulan ramadhan, dengan keikhlasan dan
keimanan. Maka Allah SWT akan melipatgandakan pahalanya, terlebih
pada malam Lailatul Qadar.

Kemudian juga tentang keutamaan kemuliaan bulan ramadhan, rasulullah SAW bersabda “bulan ramadhan ke bulan ramadhan, hari jum’at ke hari jum’at, dan satu shalat ke shalat yang lain menjadi penebus dosa diantara keduanya, akan dijauhi segala dosa besar. Malaikat Jibril pernah berkata dengan Nabi Muhammad SAW “barang siapa menemui bulan ramadhan, sedang ia tidak diampuni oleh Allah SWT, niscaya ia akan dijauhkan Allah SWT dari rahmat-Nya.pada bulan ramadhan jugalah, kita lebih mudah untuk mendapatkan ampunan Allah SWT dibanding bulan yang lain.

Agar bulan ramadhan dapat benar-benar diketahui maknanya, rasullulah menjelaskan dalam hadisnya. Bulan ramadhan yang berjumlah 30 hari, dibagi 3 kelompok. Kelompok pertama berjumlah 10 hari, dimana turunnya rahmat Allah kepada manusia. Kelompok kedua juga berjumlah 10 hari, yang merupakan hari pengampunan Allah bagi manusia yang menyadari atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Dan yang kelompok yang ketiga juga berjumlah 10 hari, merupakan hari pembebasan dari siksaan api neraka.

Sesungguhnya Allah sering memperhatikan kaum muslimin, pada malam pertama bulan ramadhan. Dan barang siapa yang mendapatkan perhatian Allah SWT niscaya tidak disiksanya bahkan Allah SWT mengampuninya pada malam terakhir bulan ramadhan.Karena itu tidak seorang pun diharamkan oleh Allah SWT, untuk memperoleh ampunan pada bulan ramadhan. Terkecuali bagi mereka, yang terlalu banyak berpaling diri dari Allah. Terakhir tentang keutamaan bulan ramadhan, dibulan ini kita juga diajarkan, selalu mempunyai sikap sabar dalam segala hal. Baik sabar saat menunggu berbuka puasa, hingga sabar mengekang hawa nafsu.

Sebuah riwayat menyebutkan, semua pintu langit dan surga dibuka pada bulan ramadhan. Semua iblis dan setan dirantai untuk diseret dan
dilemparkan ke laut agar mereka tidak menggangu kaum muslim, tidak
merusakkan puasa dan bangun malam mereka. Semoga dengan mengikuti dan mengamalkan keutamaan bulan ramadhan.

Salam,

Curhat Kepada Sang Khaliq

Sunday, August 24th, 2008

Kesusahan, kesulitan, kesempitan, ketakutan, kehawatiran dan kebingungan adalah warna yang selalu menghiasi lembaran hidup manusia.

Ada yang hanya bisa menangis menyesali nasib. Ada yang putus asa hingga memilih untuk “menyudahi” problem hidupnya dengan bunuh diri. Ada yang meminta wejangan para dukun. Ada lagi yang curhat kepada manusia, yang sebenarnya sama-sama sedang menghadapi masalah.

Ironis memang, mereka pontang-panting mencari jalan keluar kepada sesama makhluk yang serba lemah dan kekurangan, lalu melupakan Sang Khaliq yang berkuasa atas segala sesuatu, yang cukup berfirman “Kun…jadilah…!” niscaya jadilah yang Dia kehendaki.

Masih ada pintu yang selalu terbuka, masih ada jalan keluar yang selalu menjanjikan keberuntungan. Anda masih bisa menemukan kembali senjata Anda yang paling ampuh dan telah lama hilang. Anda masih bisa menemukan jalan keluar dengan munajat kepada Sang Pencipta, dan Anda masih bisa untuk memilih kata, merangkai kalimat dan menganyam bahasa untuk mencurahkan perasaan Anda kepada-Nya.

Jadilah seperti anak kecil di hadapan orang tua. Jika menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya lalu dia tidak mendapatkannya, maka dia akan menangis di hadapan keduanya. Demikian juga jika Anda meminta kepada Allah lalu Allah belum memberikannya kepada Anda, maka bersimpuhlah di hadapan-Nya, menangislah kepada-Nya, agar Dia mengabulkannya. (As-Sari as-Sibhti)

Salam,

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Tuesday, August 19th, 2008

Kejujuran adalah sesuatu yang langka dalam kehidupan sekarang ini, karena oleh sebagian orang kejujuran dianggap sebuah kebodohan yang akan menghambat kemajuan dan kesuksesan.
Lihatlah pejabat dan politikus yang jujur tidak akan cepat kaya dan masih segar dalam ingatan kita tentang banyaknya mantan pejabat yang kena kasus korupsi demikian juga dengan para politisi kita, Guru yang jujur tidak akan bisa hidup dalam kecukupan ekonomi, bukan maksud kami untuk menyinggung perasaan Bapak Ibu Guru kita yang sangat kita hormati tapi kalau kita boleh jujur bukankah demikian adanya, karyawan dan buruh yang jujur akan selalu menjadi sasaran eksploitasi pengusaha ( pemilik Modal) karena dianggap lahan empuk bagi pengusaha untuk menangguk keuntungan yang besar, Pebisnis dan pedagang yang jujur tidak akan dapat mengeruk untung sebanyak-banyaknya dan sudah menjadi rahasia umum dalam dunia perdagangan harus tega untuk menipu orang, meskipun hanya dilakukan oknum kecil dari pedagang, bahkan sebagian orang mengatakan “ yang jujur akan hancur ?” .
Tapi apakah memang demikian realitanya ?

Tidak! Bagaimanapun kejujuran harus kita pertahankan dalam hidup kita, karena kejujuran akan selalu mendatangkan ketenangan hati dan jiwa.
Kejujuran adalah sesuatu yang indah, karena ia akan selalu membawa berkah dalam hidup meskipun tidak berlimpah apa yang kita terima, lebih dari itu kejujuran akan mendapatkan balasan yang mulia dari Sang Pencipta kelak bagi Orang-orang yang punya Keyakinan.

Boleh jadi kejujuran memang sulit di praktekkan di Zaman seperti ini, Dimana segala sesuatunya diukur dengan materi yang hanya untuk memenuhi syahwat keduniawian, Tapi bukan berarti kejujuran tidak bisa kita lakukan dalam mengarungi hidup.

Karenanya seorang yang mampu bersikap jujur, niscaya ia akan mendapat apresiasi tinggi dari Sang Pencipta bukankah ini lebih penting untuk kita, meski di hadapan manusia terkadang dikucilkan karena dianggap sok suci, moralis dan lain-lain , marilah kita mulai untuk jujur dalam segala hal yang mulai menjadi barang langka di negeri ini minimal jujur kepada diri kita sendiri.

Salam,

(sumber : ekspresihati)

Kita Memang Berbeda, Cinta ….

Friday, August 1st, 2008

Kita Memang Berbeda, Cinta ….
(Pena Kecil Helvy Tiana Rosa)

“Ayah bunda lucu deh,” kata anak kami Faiz, pada suatu hari yang gerimis.

Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. “Lucu? Lucu apanya sayang?”

“Orangnya bertolak belakang! He he he … ”

Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10 tahun dan suka menulis puisi, “membaca” kami sedalam itu.

Saya manggut-manggut,”Hmmm, lalu apanya yang salah?”

Dia mengerling menggoda. “Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!”

Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.

“Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian. Bunda periang, ayah pendiam. Bunda humoris, ayah sangat serius. Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa, bunda sensitif. Ayah itu detail, bunda tidak. Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda. Menyelesaikan persoalan dengan berbeda pula!”

Saya bengong.

“Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!” katanya setengah berbisik, lalu tertawa.

Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?

Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan di sekolah dengan teman-temannya. Anak-anak SD Kelas IV itu ternyata sudah berpikir, kelak kalau menikah harus mencari pasangan yang sifatnya sama! “Kalau tidak nanti bisa cerai!”

What? Saya garuk-garuk kepala.

“Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada teman-teman, justru ayah bunda berbeda, jadinya malah asyik lho!”

Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum.

Ah, tahukah para orang tua bahwa anak-anak mereka kadang tahu lebih banyak dari yang kita pikir ?

…………………………..

Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar. Di ruang kerja saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.

A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2 anak kemudian merasa ia dan suaminya sama sekali tak cocok!
B menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa karena tak kunjung merasa cocok dengan suaminya, setelah menikah belasan tahun.
C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal, tapi terpaksa cekcok hampir setiap hari karena tak kunjung sampai pada sesuatu bernama kesamaan.
D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar menjaga keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.

Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena dijodohkan sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah melalui pacaran lebih dahulu bertahun-tahun. Dan atas nama “ketidakcocokan” itulah yang terjadi.

Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat berbeda. Sebelas tahun kami bersama dan mencari titik temu. Tak selalu berhasil. “We are the odd couple!” kelakar kami.

Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbuatan itu, kami berusaha untuk tak berhenti berkomunikasi. Saya mencoba memilih waktu yang tepat, yang menyenangkan untuk berbicara berdua. Begitu juga Mas. Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat yang nyaman dan menyenangkan.

Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap apa yang ia inginkan dari saya. Kadang saat saya lelah, tanpa harus terucap kata “saya capek,” Mas memijat pundak dan punggung saya. Saya tahu, saya menangkap, Mas akan senang kalau saya perlakukan demikian pula.

Saya selalu memberi kejutan di saat milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan atau kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada tradisi itu di keluarga Mas. Saya membuatkan puisi saat Mas kerap memberi saya data statistik keuangan kami. Mas tahu, saya ingin sesekali diberi puisi sederhana tentang cinta. Saya pun menyadari, Mas ingin saya bia mencatat semua pemasukan dan pengeluaran rumah tangga dengan rapi. Mas suka makanan tertentu. Dan meski tak suka, saya coba memasaknya. Saya membelikan Mas pakaian yang sedikit modis. Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.

Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah, ketika itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan, bukan karena tuntutan atau paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan berubah kita lantas menjadi lebih baik, kalau berubah itu dalam rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan kita bahagia, mengapa tidak? Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari karakter semula setelah bertahun-tahun, mengapa kita tak melihat hal itu sebagai keunikan yang makin membuat kita “kaya”?

Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan itu bisa saja seolah lebur saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu keinginan menjadi abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya, menjadikan sifat dan karakter yang paling berbeda sekalipun, bersimpuh atas namaNya. Perbedaan justru menjadi masalah serius ketika masing-masing pribadi memang tidak menempatkan ridho Allah sebagai tujuan utama dalam biduk rumah tangga mereka.

Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di telpon. Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya.

“Apa? Ayah bundamu bertengkar? Sudah, jangan menangis. Cinta yang besar kepada Allah, akan selalu menyatukan mereka!”

Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?

…………………………