Archive for November, 2008

Hari ini aku sakit …

Friday, November 28th, 2008

Ya. Hari ini badanku benar-benar tidak karuan. Pusing, batuk, otot pegal-pegalĀ  dan meriang. Tadinya aku ingin memaksakan diri masuk kerja seperti biasanya. Tapi fisik benar-benar lemah untuk melakukan perjalanan ke tempat kerja yang sangat jauh itu.

Setiap kali aku sakit begini, sedih bercampur senang selalu mewarnai. Sedih karena tidak bisa berangkat kerja, sebuah ibadah kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Senang karena sakit ini bisa menghapus dosa-dosa kecil.

Astaghfirullahal’adzim …

Adab Bertamu

Tuesday, November 25th, 2008

Bertamu artinya mengunjungi seseorang dan melakukan aktivitas ramah tamah untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan orang/penghuni rumah yang kita kunjungi. (sorry kalau definisinya gak pas :) )

Bertamu mempunyai maksud yang baik. Lain halnya dengan tamu tak diundang, konotasinya bisa baik dan bisa buruk.

Se-yogyanya, orang yang hendak bertamu itu melakukan persiapan-persiapan fisik, psikis dan materinya. Persiapan fisik misalnya masalah kesopanan berbusana, kebersihan jasmani dan kesehatannya. Psikis artinya kedewasaan jiwa, tenggang rasa, berjiwa besar, sabar, lapang dada dan lain-lain. Materi tentunya maksud dan tujuan berkunjung.

Bila persiapan sudah siap, rencanakan outputnya apakah sebuah appoinment atau silaturahmi.

So … bagaimana dengan adab bertamu di rumah Allah???

Salam,

MANISNYA DIREMEHKAN

Saturday, November 22nd, 2008

DALAM perjalanan hidup manusia, siapakah yang belum pernah diremehkan oleh orang lain? Begitu pula sebaliknya, siapakah yang belum pernah meremehkan orang lain? Kita semua pasti pernah mengalami keduanya, meremehkan dan diremehkan.

Ketika kita meremehkan orang lain, ada perasaan puas dalam diri kita. Kepuasan itu muncul karena kita bisa membuat orang lain menderita. Kita merasa di atas angin. “Inilah aku!” “Kamu bukan apa-apa dibandingkan aku!”

Sebaliknya, ketika kita dalam posisi diremehkan, spontan kita bisa jengkel, marah, benci, frustasi, bahkan apabila proses peremehan tersebut terus berlanjut menimpa seseorang maka orang tersebut bisa mengalami depresi.

Bagi seseorang, diremehkan bisa sangat menyakitkan bahkan membuat seseorang bisa menderita dan tidak berdaya. Sumber peremehan pun bisa bermacam-macam, misal asal daerah (Wong Deso), bentuk fisik (anak hitam kecil lagi), kemampuan intlektual (Anak Goblok), status sosial-ekonomi (Dasar Miskin), dan sebagainya.

Lalu apa manisnya diremehkan? Spontan kita akan menjawab, tidak akan pernah ada manisnya diremehkan! Dalam realitas kehidupan kita, ada banyak peristiwa yang merupakan representasi dari sebuah proses peremehan, sebagaimana dinarasikan dalam kasus misalnya seorang anak lelaki berasal dari desa, tubuhnya relatif hitam, tampangnya juga pas-pasan.

Sewaktu lulus Sekolah Dasar orang tuanya menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah favorit di kota. Teman-teman barunya memiliki tampilan yang jauh lebih menawan dari dirinya. Setiap hari di sekolah, si anak desa itu selalu mendapatkan peremehan. Teman-temannya sering mengatakan “Cah ndeso gaweane mangan telo, opo iso nggarap!” (anak desa kerjaannya makan ketela, apa bisa mengerjakan tugas-tugas”) ditambah lagi “Cah cilik cacingen maneh, kok bercita-cita jadi pilot!” (”anak kecil cacingan lagi, kok bercita-cita jadi pilot”).

Diremehkan seperti itu membuat si anak tidak tahan. Oleh karena itu, si anak minta pada orang tuanya untuk keluar dan pindah ke sekolah yang ada di desanya saja.Tentu saja, orang tua si anak, kalang kabut mendengar keinginan anaknya keluar dari sekolah favorit yang menjadi idaman orang tuanya.

Menghadapi realitas seperti ini, respons orang tua pada umumnya biasanya marah. Setelah itu, menasihati anak dengan penjelasan dari A sampai Z, tanpa mereka bersedia memahaminya. Anak pun makin menderita dan tertekan.

Saat ini, anak tersebut sudah dewasa, bergelar master dalam bidang teknik elektro, dan hidupnya pun berkelimpahan.

Kasus yang lain digambarkan oleh pasangan Wono dan Weny. Wono baru menikah satu tahun yang lalu dengan Weny. Mereka merasa sakit hati kepada kakaknya. Ini terjadi akibat setiap saat sang kakak selalu meremehkan dengan kata-kata “Ah sopir saja kok akan buat rumah, kapan jadinya?”

Peremehan ini membuat Wono dan Weny prihatin. Setiap malam mereka berdua selalu berdoa memohon kepada Tuhan atas anugerah pada dirinya. Pasutri tersebut sangat kompak dan begitu bersemangat dalam bekerja. Ia sekarang sudah mempunyai rumah. Mereka berdua hidup bahagia di lereng pegunungan yang indah.

Kasus-kasus seperti ini dengan segala variasinya, bisa menimpa siapa saja. Ketika diremehkan, secara emosional kita pasti memberikan reaksi entah secara sadar atau tidak. Reaksi pun bisa jadi kelihatan, bisa juga tidak. Ketika diremehkan, hati pasti terusik meningkatkan kadar adrenalin tubuh.

Proses Refleksi
Manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengolah seluruh peristiwa yang masuk ke dalam dirinya. Kemampuan mengolah ini pun sangat unik dan dipenuhi oleh misteri. Oleh karena itu, kita bisa menyaksikan orang-orang yang diremehkan terhimpit oleh keadaan dan sangat menderita. Mereka bisa mengalami stres luar biasa. Di sisi lain, kita juga bisa melihat banyak orang yang diremehkan oleh orang lain, namun orang tersebut bisa mengambil energi emosi yang muncul dalam dirinya untuk tujuan positif.

Pengolahan inilah yang disebut proses refleksi, sebuah proses olah batin yang bila kita latih akan memberikan kemampuan tambahan dalam diri kita. Kemampuan yang dapat dipergunakan untuk semakin mengenali diri, lingkungan, dan beragam peristiwa yang menimpa diri kita. Sekaligus bisa menjadi sarana untuk menemukan cara-cara mereaksi atas segala peremehan yang menimpa kita dengan cara lebih positif.

Bila direflesikan secara matang, maka peremehan justru dapat membuat kita makin tahan mental. Sekaligus membuka peluang untuk membuktikan bahwa diriku bukan seperti yang dikatakan orang lain tersebut. Bila dilihat dari perspektif spiritual peremehan bisa ditafsirkan sebagai cara Allah membuka potensi kita.

Peremehan tidak akan membuat hati seseorang terluka, apabila orang tersebut tidak mengizinkan hatinya dilukai. Apabila kita bisa memandang setiap peremehan yang menimpa kita dari sisi positif maka kita bisa mengatakan: “Silahkan Anda meremehkan saya.”

Peremehan akan memunculkan energi baru dari dalam diriku. Dengan energi baru tersebut aku akan makin mampu menggapai cita-cita, yang berbeda dengan label negatif yang diberikan kepada ku.

Apabila kita sudah mampu sampai pada tingkat ini maka kita bisa menikmati betapa manisnya diremehkan! Silahkah Anda meremehkan, aku akan menikmati hasilnya dalam wujud prestasi-prestasi nyata sebagai buah peremehan! Bagi yang suka meremehkan orang lain, hati-hatilah karena manusia pada dasarnya sulit untuk diperkirakan, “Jalma tan keno kiniro.” (sumber : Kompas)

Salam

Anak Jalan Punya Cerita …

Friday, November 21st, 2008

Ketika dalam perjalanan dari tempat kerja menuju ke rumah, saya dihibur oleh seorang anak perempuan yang mau mengamen di mikrolet yang saya tumpangi itu.

Umurnya sepertinya gak lebih dari 12 tahun-an, tetapi dia mengaku sekolah smp kelas 2. Di antara penumpang ada yang bertanya-tanya dengan ramahnya. Ketika ditanya pada anak itu, kalau semisal ketemu gurunya saat ngamen gimana? Yaaa … biasa aja Bu. Gue bilang aja bu guru, permisi bu saya mau ngamen … udah selesai.

Cerita belum selesai, setelah anak itu menyanyikan lagu Gaby dengan ‘merdu’ nya. Angkutan terjebak macek yang sangat lama dan anak itu masih nongkrong juga walaupun udah selesai menjalankan tugasnya. Dan berceritalah dia tentang kehidupannya sesuai request penumpang.

Anak jalanan yang telah mandiri ini bukan sembarang . Dia sendiri punya Hand Phone dua buah dengan membawa tas plastik berisi uang tidak jelas jumlahnya. Jelas dia mengatakan sudah tidak punya ayah ibu lagi dan dari sorot matanya terlihat jelas tidak ada lagi rasa takut dan malu.

Anak jalanan ini masih punya cerita. Ketika saya naik taxi, pak sopir bercerita pernah melihat anak jalanan sedang bermain sex di taman dengan teman perempuannya sesama anak jalanan. Dan setelah lama kemudian,kata pak sopir itu anak yang main sex itu hamil.

Lain cerita, sering ibu sesama penumpang bercerita juga, kejadian main sex,hamil, sex lagi dan hamil lagi sudah biasa dalam kehidupan anak jalanan walaupun mereka masih dibawah umur.

Ini memang bukan sekedar cerita tapi ini realita di sekitar kita. Mungkin mereka enjoy dengan hal-hal seperti ini tetapi bagi saya …. masih ada sejumlah pertanyaan yang tak terjawab.

Salam dan TETAP SEMANGAT

Salah Sambung di Gen FM : Masih Dalam Batas Etika?

Sunday, November 16th, 2008

Semenjak di Jakarta, beberapa hari ini saya selalu mendengarkan ’secara tidak sengaja’ acara Salah Sambung di Radio 98,7 Gen FM.

Kesan pertama saya, acara ini sangat menyegarkan, membuat muka ini ‘terpaksa’ tersenyum dan kadang tertawa. Padahal acara ini tergolong acara yang usil ngerjain orang. Dan ternyata orang yang mendengarkan seperti saya malah merasa terhibur dengan ‘penderitaan’ orang yang diusilin oleh Radio tersebut.

Obyek sasaran ‘Salah Sambung’ sangat bervariasi dari mulai ibu-ibu, bapak, remaja dengan berbagai profesi. Katanya sih ‘tanpa rekayasa’ dan terkadang ada makian-makian yang disensor.

Etika mengusilin orang memang belum diatur atau gak perlu diatur kali ya? Tapi terkadang ada perasaan kasihan juga ketika salah satu obyek sasaran ternyata sedang berduka , misalnya sedang dirumah sakit tapi tetap diusilin.

Semoga kreativitas tidak melanggar etika dan norma (kalau masih ada)

salam dan TETAP SEMANGAT!