Archive for December, 2008

Berlibur dan Produktivitas

Friday, December 26th, 2008

Akhir tahun ini liburan pegawai/karyawan cukup panjang. Berbagai perusahaan banyak yang mengeluhkan panjangnya liburan ini dengan alasan produktivitas kerja menurun.

Benarkah demikian?

Persepsi seperti diatas dikarenakan banyak perusahaan masih menganggap SDM ini sebagai mesin yang harus bekerja terus menerus. Mereka lupa bahwa liburan bagi para pekerja sebenarnya merupakan saat me-recharge stamina para pekerja mereka sehingga pada saat para pegawai ini masuk kerja lagi, stamina dalam kondisi full.

Berlibur adalah saat bertemu dengan keluarga tercinta. Mengumpulkan emosi dan semangat yang selama ini terpisah-pisah. Kondisi ini akan menjadi energi tersendiri yang tidak bisa di kalkulasi matematis.

Berlibur akan meningkatkan produktivitas secara tidak langsung. Logikanya hampir sama dengan konsep sponsorship. Pada awalnya , sponsor terkesan memakan biaya besar tapi dalam waktu kemudian dia akan mengembalikan modal kerja dan memberi keuntungan.

Salam dan TETAP SEMANGAT.

Kasih Ibu Tiada Tara

Tuesday, December 23rd, 2008

Sebuah kisah dari seorang teman :

“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.

Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.

Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pu menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.

” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. “Kasihilah ibumu selagi ia masih hidup. Tidak ada kasih dan cinta yang lebih dari segalanya selain kasih dan cinta seorang ibu untuk anaknya. Ibumu akan berbuat apa saja untuk melindungi dan menolong engkau saat dalam bahaya”.”Sekali lagi, kasihilah ibumu selagi ia masih hidup. Esok mungkin terlambat”

(Dan akupun bernyanyi : )

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri.. Cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi.. Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya
(Lirik syair lagu : Malaikat Juga Tahu voc. Dewi Lestari)

Salam dan TETAP SEMANGAT

Surat Cinta Kepada Para Hacker

Wednesday, December 17th, 2008

Yang Terhormat Para Hacker,

Kami sangat mengharapkan kebaikan hati Anda semua, agar tidak merusak situs-stus yang ada. Apalagi situs-situs yang berguna bagi masyarakat banyak seperti situs-situs informasi dan konsultasi kesehatan dan obat.

Kami sangat mengharapkan kepada Anda semua untuk membantu kami yang menyediakan layanan masyarakat dengan tidak merusak kontent yang ada dalam situs-situs tersebut.

Saya tahu anda adalah orang hebat, saya tahu anda adalah orang cerdas dan saya mengakui bahwa Anda lebih pandai dari saya.

Saya cuma bisa berharap Anda tidak menjadi orang yang merugikan yang lain. Jadilah orang yang menyenangkan orang lain. Jadilah orang yang selalu berbuat baik dengan seksama.

Salam,

Empat Mata dan Bukan Empat Mata

Saturday, December 13th, 2008

Larangan terhadap tayangan Empat Mata direspon dengan menghentikan program ini selama beberapa saat. Namun kemudian muncul lagi tayangan padanannya yaitu Bukan Empat Mata.

Sebagai salah satu pemirsa saya cuma bisa tersenyum terhadap fenomena ini. Karena dari awal, saya termasuk yang menyukai tayangan ini sebelum sampai bosan di waktu terakhir ini.

Rupanya esensi pelarangan sama sekali tidak ada. Sekedar melarang judul program yang sebenarnya tidak terlarang. Apa salahnya dengan kata EMPAT MATA? Kalau esensinya judul program tentu yang paling dilarang adalah judul program BUGIL atau Bule Gila nya Farhan, walaupun isi acaranya sama sekali tidak terlarang.

Aneh, lucu dan terkesan main-main. Menyepelekan juga.

Sebagai pemirsa ya … senyum sajalah.

Salam