“Bunuh Diri itu Kekerasan yang Menular”

depression_223191 Ya. Violence is Contagious. Kekerasan itu Menular! Kejadian bunuh diri dari ketinggian di Jakarta semakin marak dan sering terjadi. Psikolog Universitas Indonesia (UI) Suhati Kurniawati mengatakan, bunuh diri dengan terjun bebas dari ketinggian yang semakin marak merupakan contagious violence (kekerasan yang menular). Melihat beberapa kasus bunuh diri dari ketinggian di Jakarta dalam dua bulan terakhir, besar kemungkinan para pelakunya memiliki latar belakang yang sama, yakni mengalami depresi berat ataupun putus asa. Disisi lain, kata Suhati, media massa “menularkan dan memberi contoh cara bunuh diri.” Media mempunyai peran. Media mengilhami orang-orang yang depresi berat dan putus asa untuk melakukan hal yang sama,”ujarnya.

Menurut Suhati, orang yang mendapatkan tekanan hidup luar biasa, hingga depresi berat dan putus asa, cenderung melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. “Nah, ide untuk bunuh diri dengan cara simpel dan mudah, timbul saat dia melihat di media ada orang yang melakukannya dengan terjun bebas dari ketinggian,”katanya. (Warta Kota, 16 Desember 2009)

Menurut saya, media tidak bisa disalahkan begitu saja karena permasalahan hidup di jaman sekarang memang sudah begitu berat. Ada sebuah sebuah situs yang mengajak untuk ‘menjauhkan’ diri dari kemungkinan bunuh diri dengan cara mencurahkan segala ganjalan. Berikut cuplikan beberapa ‘curhat’ yang ada :

“dari xxx @ Sabtu, 17 Oktober 2009 | 16:10 WIB : bolehkah saya “mengundurkan diri” dari kehidupan ini, karena saya
sudah tidak bisa menahan himpitan beban hidup. saya sepertinya disleksia (kalau dalam maslah belajar) dalam menjalani hidup ini. saya tidak tahan denganarus kehidupan ini, semakin lama semakin kepikiran untuk melakukan hal itu”

“dari yyyy @ Sabtu, 14 November 2009 | 12:22 WIB : pacarku mau bunuh diri, hanya karena hubungan kami nggak direstui sama ortunya. dia kelas 2 sma(17th), chinnese, putih, high-end teen, cakep biar agak ndud sepertinya punya segalanya dalam hidup. sementara aku sendiri, feya, semester 5 politik univ negeri terkenal di sby(18 th), afro indonesia, berkulit mocha, middle end teen, kurus (banget, kaya model luar negeri yang kebanyakan bulimia tuh) -tapi aku kurus emang dari sononya-, harus bekerja sambil kuliah untuk bisa hidup lebih baik (at least gak njeglek banget lah kalo sama dia). orang taunya gak setuju dia jalan sama aku. ada 1 orang yang dukung aku, cie2nya dia. orang tuanya tinggal di ponorogo, sementara aku dimas n cie2nya di sby. setiap kali orang tuanya datang dan m,ulai meng-intimidasi dia, dia selalu berpikir dan bicara (dengan nada mengancam) padaku untuk jangan menyalahkan dia kalo misal dipaksa, dia akan bunuh diri. aku harus apa? aku gak bisa jaga dia 24 jam sehari. apalagi kalau misalnya dia jadi dipaksa pulang ponorogo. keinginannya untuk bunuh diri akan semakin besar karena gak bisa ketemu aku. aku juga akan susah untuk cegah dia lakukan itu. apa aku harus bicara dengan cie2nya? tapi kalo aku bicara, apa dia gak marah sama aku? aku bingung harus apa. aku akan lebih lega kalo akhirnya dia sama orang lain atau ternyata dia hanya mengancam. aku takut dia bener2 nekat bunuh diri…. aku bingung harus apa…”

“dari rrrrr @ Sabtu, 21 November 2009 | 13:52 WIB : feel very hurt…kenapa pengerobanan dan cintaku di sia-siakan oleh lelaki yang ku panggil suami…aku sangka dia benar-benar menyintai ku semasa kami mengambil keputusan untuk bersama 9 bulan lepas…setelah pernah gagal dalam rumahtangga sebelum ini, aku sangat malu untuk gagal rumahtangga buat kali kedua…aku tidak berdaya untuk menghadapi hidup dan masyarakat…kematian adalah jalan penyelesaian terbaik buatku…walaupun begitu aku tetap berharap Tuhan memberi jalan penyelesaian untuk rumahtanga kami…aku tidak mahu gagal lagi, kalau gagal bermakna ianya KEMATIAN…”

“dari mmmmm @ Rabu, 25 November 2009 | 19:22 WIB : Gw sering terpikir untuk bunuh diri…merasa dunia ngga adil.. Kesulitan demi kesulitan datang silih berganti. Berawal dari suami yang kurang perhatian, jarang pulang ke rumah, ngga pernah ada komunikasi,dia kemana-kemana, dia seolah-olah hidup dengan dunianya sendiri. Sementara gw dengan dua anak yang masih kecil-kecil sedang hamil pula…. pembantu berhenti, merasa seakan-akan semua kesulitan, urusan anak, rumah tangga harus mikir sendiri sementara suami dengan santainya pulang seenaknya, kadang tengah malam, kadang subuh, kadang ga pulang. Anak-anak berantem…pusiiing pengen bunuh diri…. ngerasa rumah tangga ini hampa, tidak ada kebersamaan, tidak terjalinnya hubungan suami istri…gw putus asa… Mau cerai takut… karena jujur gw masih sangat mencintai suami gw..tp ngga sanggup ngelalanin kehidupan seperti sekarang ini. Secara fisik dan mental gw capee……”

dan masih banyak lagi ….. :(
Pelaku bunuh diri biasanya orang yang KESEPIAN, tidak bisa mengungkapkan dan melampiaskan masalahnya. Tembok besar seolah-olah menghadangnya. Tidak ada solusi dan merasa gagal.

Bagaimana mencegah dan menghindari semua ini?

MARI BERBAGI !

Leave a Reply