Terima kasih buat teman-teman di facebook yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun. Rasanya itu sangat cukup buatku. I Love You All My Friends ^_^
Yudi HS
26 Maret 2010
Terima kasih buat teman-teman di facebook yang sudah mengucapkan selamat ulang tahun. Rasanya itu sangat cukup buatku. I Love You All My Friends ^_^
Yudi HS
26 Maret 2010
Beberapa waktu yang lalu, saya mengemudi mobil dalam perjalanan rute Semarang-Brebes melewati kota-kota seperti Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal dan tujuan akhir Brebes. Ditengah perjalanan ada yang menarik perhatian saya, yaitu papan penunjuk arah dipinggir jalan bertuliskan “(Nama menu-persisnya saya lupa) 48 km lagi Restoran Taman Pring Jajar”. Saya berpikir … “masih jauh tempatnya tapi papan namanya sudah ada”. Mobil terus saya jalankan tanpa ada pikiran ingin singgah. Beberapa kilometer kemudian ada papan penunjuk lagi “(nama menu juga tapi beda dengan sebelumnya) 45 km lagi restoran taman pringjajar”. Wah, rasanya baru tadi ada penunjuk arah, sekarang ada lagi.
Dan ternyata, sepanjang perjalanan tersebut ada banyak penunjuk arah “Restoran Taman Pringjajar” dengan tulisan MENU dan KM -nya. Sampai di 5 km lagi, saya jadi penasaran karena pas waktu perut lagi lapar. Dan mendekati restoran, papan penunjuk semakin akrab dan lebih banyak.
Akhirnya, saya singgah dan sambutan pertama oleh tukang parkir mengarahkan mobil yang saya kendarai ke tempat yang nyaman. Saya masuk dan memilih tempat lesehan karena saya berpikir sambil menyelonjorkan kaki dan anak-anak memang suka lesehan. Kemudian dengan senyuman yang ramah, pramusaji menawarkan menu makanan. Dan sembari memilih makanan saya dikagetkan oleh pramusaji yang mendekati anak saya kemudian memberikan balon berbentuk pedang-pedangan sesuai warna baju anak saya. Anak saya yang paling kecil memakai kaos warna hijau dan dia diberi balon pedang warna hijau. Sedang yang sulung, karena memakai kaos warna putih, dia diberi balon pedang warna putih. GRATIS! Anak-anak langsung bermain dengan senangnya.
Setelah selesai memilih menu,pramusaji menanyaka apakah ada anggota keluarga yang berulang tahun bulan ini. Saya jawab , bulan januari tidak ada. Yang ada bulan Maret. Pramusaji tersenyum saja. Tetapi pelanggan di sebelah saya ada yang berulang tahun.
Ternyata kemudian dia diberi kue ultah plus lilinnya diiringi lagu ulang tahun yang dibawakan oleh seluruh pramusaji restoran. Suasana jadi sangat meriah dan saya agak terkejut juga dengan layanan yang ‘tidak biasa’ ini. Dan tidak cuma itu, di restoran ini ada fasilitas pertunjukkan SULAP GRATIS dan Pijat Elektrik.
Terus terang saya puas, selain makanannya memang enak harganya pun tidak terlalu mahal. Lagipula pelayanannya benar-benar diluar dugaan dan sangat memuaskan. Saya belajar banyak dari perjalanan ini. Bagaimana marketing sebuah restoran mengarahkan konsumen yang tadinya tidak ingin singgah menjadi singgah. Kemudian ketika singgah pun bisa membuat teringat layanan yang memuaskan. Luar biasa!
Salam
NB : selengkapnya lihat saja di situsnya http://pringjajar.blogspot.com
Saya tertarik dengan status yang ditulis seorang pakar di akun facebooknya dimana dia mengatakan, “masa depan semakin sulit diprediksi, tantangan bisnis bukan memprediksi secara tepat tapi mampu beradaptasi secara cepat”. Kalau direnungkan, kata-kata tersebut ada benarnya juga mengingat berbagai kejadian yang terjadi sepanjang tahun 2009 kemarin sudah menunjukkan ke arah unpredictable situation terutama terkait ruang lingkup bisnis.
Tahun 2010 akan semakin memperjelas efek dari multirelationship grup-grup social media, baik itu facebook, twitter dan pasti akan muncul hal yang baru lagi menghantam perkembangan teknologi informasi yang ada.
Jika memang 2010 itu dominan terhadap hal-hal yang unpredictable dan adaptasi merupakan solusinya , maka bisnis akan menjadi milik orang-orang ‘IT’. Perusahaan-perusahaan yang komitmen mengembangkan IT di tahun 2010 akan mampu bertahan dalam kondisi yang unpredictable ini.
Dalam sudut pandang masyarakat, kemampuan meng-konsumsi barang dan menggunakan jasa layanan yang ada akan mengalami perubahan orientasi. Orang tidak lagi memikirkan urutan-urutan teori motivasi pemenuhan kebutuhan Maslow, tetapi 2010 adalah eranya apa yang dimaui mesti terwujud. Consumer insight menjadi survey yang mesti dimiliki oleh setiap pebisnis.
2010 tahunnya Hukum Rimba berlaku. Siap Kuat Dia Menang.
Salam
Ya. Violence is Contagious. Kekerasan itu Menular! Kejadian bunuh diri dari ketinggian di Jakarta semakin marak dan sering terjadi. Psikolog Universitas Indonesia (UI) Suhati Kurniawati mengatakan, bunuh diri dengan terjun bebas dari ketinggian yang semakin marak merupakan contagious violence (kekerasan yang menular). Melihat beberapa kasus bunuh diri dari ketinggian di Jakarta dalam dua bulan terakhir, besar kemungkinan para pelakunya memiliki latar belakang yang sama, yakni mengalami depresi berat ataupun putus asa. Disisi lain, kata Suhati, media massa “menularkan dan memberi contoh cara bunuh diri.” Media mempunyai peran. Media mengilhami orang-orang yang depresi berat dan putus asa untuk melakukan hal yang sama,”ujarnya.
Menurut Suhati, orang yang mendapatkan tekanan hidup luar biasa, hingga depresi berat dan putus asa, cenderung melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. “Nah, ide untuk bunuh diri dengan cara simpel dan mudah, timbul saat dia melihat di media ada orang yang melakukannya dengan terjun bebas dari ketinggian,”katanya. (Warta Kota, 16 Desember 2009)
Menurut saya, media tidak bisa disalahkan begitu saja karena permasalahan hidup di jaman sekarang memang sudah begitu berat. Ada sebuah sebuah situs yang mengajak untuk ‘menjauhkan’ diri dari kemungkinan bunuh diri dengan cara mencurahkan segala ganjalan. Berikut cuplikan beberapa ‘curhat’ yang ada :
“dari xxx @ Sabtu, 17 Oktober 2009 | 16:10 WIB : bolehkah saya “mengundurkan diri” dari kehidupan ini, karena saya
sudah tidak bisa menahan himpitan beban hidup. saya sepertinya disleksia (kalau dalam maslah belajar) dalam menjalani hidup ini. saya tidak tahan denganarus kehidupan ini, semakin lama semakin kepikiran untuk melakukan hal itu”
“dari yyyy @ Sabtu, 14 November 2009 | 12:22 WIB : pacarku mau bunuh diri, hanya karena hubungan kami nggak direstui sama ortunya. dia kelas 2 sma(17th), chinnese, putih, high-end teen, cakep biar agak ndud sepertinya punya segalanya dalam hidup. sementara aku sendiri, feya, semester 5 politik univ negeri terkenal di sby(18 th), afro indonesia, berkulit mocha, middle end teen, kurus (banget, kaya model luar negeri yang kebanyakan bulimia tuh) -tapi aku kurus emang dari sononya-, harus bekerja sambil kuliah untuk bisa hidup lebih baik (at least gak njeglek banget lah kalo sama dia). orang taunya gak setuju dia jalan sama aku. ada 1 orang yang dukung aku, cie2nya dia. orang tuanya tinggal di ponorogo, sementara aku dimas n cie2nya di sby. setiap kali orang tuanya datang dan m,ulai meng-intimidasi dia, dia selalu berpikir dan bicara (dengan nada mengancam) padaku untuk jangan menyalahkan dia kalo misal dipaksa, dia akan bunuh diri. aku harus apa? aku gak bisa jaga dia 24 jam sehari. apalagi kalau misalnya dia jadi dipaksa pulang ponorogo. keinginannya untuk bunuh diri akan semakin besar karena gak bisa ketemu aku. aku juga akan susah untuk cegah dia lakukan itu. apa aku harus bicara dengan cie2nya? tapi kalo aku bicara, apa dia gak marah sama aku? aku bingung harus apa. aku akan lebih lega kalo akhirnya dia sama orang lain atau ternyata dia hanya mengancam. aku takut dia bener2 nekat bunuh diri…. aku bingung harus apa…”
“dari rrrrr @ Sabtu, 21 November 2009 | 13:52 WIB : feel very hurt…kenapa pengerobanan dan cintaku di sia-siakan oleh lelaki yang ku panggil suami…aku sangka dia benar-benar menyintai ku semasa kami mengambil keputusan untuk bersama 9 bulan lepas…setelah pernah gagal dalam rumahtangga sebelum ini, aku sangat malu untuk gagal rumahtangga buat kali kedua…aku tidak berdaya untuk menghadapi hidup dan masyarakat…kematian adalah jalan penyelesaian terbaik buatku…walaupun begitu aku tetap berharap Tuhan memberi jalan penyelesaian untuk rumahtanga kami…aku tidak mahu gagal lagi, kalau gagal bermakna ianya KEMATIAN…”
“dari mmmmm @ Rabu, 25 November 2009 | 19:22 WIB : Gw sering terpikir untuk bunuh diri…merasa dunia ngga adil.. Kesulitan demi kesulitan datang silih berganti. Berawal dari suami yang kurang perhatian, jarang pulang ke rumah, ngga pernah ada komunikasi,dia kemana-kemana, dia seolah-olah hidup dengan dunianya sendiri. Sementara gw dengan dua anak yang masih kecil-kecil sedang hamil pula…. pembantu berhenti, merasa seakan-akan semua kesulitan, urusan anak, rumah tangga harus mikir sendiri sementara suami dengan santainya pulang seenaknya, kadang tengah malam, kadang subuh, kadang ga pulang. Anak-anak berantem…pusiiing pengen bunuh diri…. ngerasa rumah tangga ini hampa, tidak ada kebersamaan, tidak terjalinnya hubungan suami istri…gw putus asa… Mau cerai takut… karena jujur gw masih sangat mencintai suami gw..tp ngga sanggup ngelalanin kehidupan seperti sekarang ini. Secara fisik dan mental gw capee……”
dan masih banyak lagi ….. ![]()
Pelaku bunuh diri biasanya orang yang KESEPIAN, tidak bisa mengungkapkan dan melampiaskan masalahnya. Tembok besar seolah-olah menghadangnya. Tidak ada solusi dan merasa gagal.
Bagaimana mencegah dan menghindari semua ini?
MARI BERBAGI !
Malam ini, tiba-tiba saya ingin sekali menulis tentang “Apoteker”. Sebuah ‘profesi’ yang dahulu diwadahi oleh suatu organisasi yang bernama Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia(ISFI) dan mulai 9 Desember 2009 pukul 00.09 wib membentuk organisasi dengan nama baru yaitu ‘Ikatan Apoteker Indonesia’.
Tentu bukan hanya sekedar pergantian atau perubahan nama saja, tetapi barangkali ada harapan-harapan yang mendasari terbentuknya organisasi ‘baru’ ini. Barangkali para peserta Kongres ISFI di Jakarta tanggal 7 - 9 Desember 2009 sudah merencanakan sekian lama nama ini dan isunya sih … pergantian nama ini tidak semulus jalan tol karena beberapa anggota ISFI punya pandangan yang berbeda.
Sejak terbentuknya Ikatan Apoteker Indonesia ini … beberapa anggota yang bukan Apoteker tentu harus mulai keluar, misalnya para Sarjana S1 Farmasi Non Apoteker atau Bahkan para Master,Doktor, Profesor sekalipun Non Apoteker. Resiko seperti ini mesti diterima dan merupakan konsekuensi yang ada.
Berdasarkan realita di masyarakat, pembentukan IAI ini diharapkan bisa lebih fokus meningkatkan kredibilitas profesi Apoteker, yang menurut saya, masih dipandang sebelah mata. Mengingat masa-masa ‘penguatan’ ini, seyogyanya IAI mesti memperkuat kekompakan anggota-anggota dan bukan malah mempersulit anggotanya. Semua harus sadar, terutama yang bakal jadi pengurusnya untuk penting MELINDUNGI anggotanya, MEMBINA dengan sabar dan tekun, bukan malah MENJEGAL, MENGHAMBAT DAN MEMPERSULIT sejawatnya. Keinginan untuk memperbesar dan memperkuat organisasi profesi ini tentu bukan hanya keinginan para pengurusnya saja, tetapi merupakan HAK semua Apoteker yang ada.
Jujur saya katakan bahwa saya berharap IAI ini digerakkan oleh kaum muda yang punya wawasan yang luas, tidak punya kepentingan pribadi dan berkeinginan mulia memajukan para apoteker di Indonesia dan juga siap berjuang membantu Apoteker-apoteker yang kesulitan. Jika ada Apoteker yang merasa minder, dia rangkul. Jika ada Apoteker yang nakal, dia dekati untuk dinasehati dan dibina dengan bersahabat, bukan malah ditendang. Jika ada apoteker yang berbakat, dia berkenan menyalurkan potensinya. Jika ada apoteker yang memang kesulitan, dia berkenan mencari solusinya.
Saya ‘masih’ seorang Apoteker. Dan tanpa perlu mendapat pengakuan dari siapapun saya akan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan kefarmasian sebagai seorang Apoteker walaupun misalnya, saya tidak punya Apotek nantinya, ataupun pekerjaan saya tidak berhubungan dengan kefarmasian, ataupun saya kesulitan mendapat tanda registrasi sebagai seorang Apoteker nantinya karena masalah birokrasi atau apalah. Terkadang saya ingin melepas ke-Apoteker-an ini bila melihat ada sejawat pengurus yang tidak adil memperlakukan sejawatnya atau malah menghina sejawatnya. Tapi saya masih berharap dan saya percaya Ikatan Apoteker Indonesia akan berubah menjadi lebih baik.
Banyak suara yang sumbang di sekitar kita dan itu wajar. Bila memang ada suara yang merdu , silakan bernyanyilah karena tentu suara yang merdu pasti akan didengar oleh masyarakat tanpa perlu berkoar-koar ‘Dengarlah Aku .. Dengarlah Aku!”
Selamat dan Sukses buat para Apoteker Indonesia. Tetap FOKUS dan SEMANGAT!